WIBAWA GURU DIHANCURKAN: POTRET BURAM PENDIDIKAN TANPA ADAB


 

Oleh : Yuli Atmonegoro 

(Penggiat Literasi Serdang Bedagai)


Peristiwa pelecehan terhadap guru yang terjadi di ruang kelas bukan sekadar kenakalan remaja biasa. Ini adalah alarm keras bahwa dunia pendidikan sedang mengalami kerusakan mendasar. Ketika siswa berani mengejek, merendahkan, bahkan melakukan gestur penghinaan kepada guru—sosok yang seharusnya dimuliakan—maka yang runtuh bukan hanya wibawa individu, tetapi juga nilai-nilai dasar dalam sistem pendidikan itu sendiri.


Sanksi skorsing selama 19 hari yang diberikan kepada pelaku menunjukkan bahwa pendekatan yang diambil masih bersifat administratif, bukan solutif. Hukuman seperti ini tidak menyentuh akar persoalan. Ia hanya menunda masalah, bukan menyelesaikannya. Bahkan, dalam banyak kasus, sanksi semacam ini justru gagal membentuk kesadaran dan perubahan perilaku yang hakiki.


Akar Masalahnya adalah, hilangnya adab dalam sistem pendidikan hari ini. Kasus ini mencerminkan krisis moral yang lahir dari sistem pendidikan yang memisahkan ilmu dari nilai-nilai adab. Pendidikan hari ini lebih menekankan aspek kognitif dan capaian akademik, namun mengabaikan pembentukan kepribadian yang berlandaskan penghormatan, tanggung jawab, dan akhlak.


Guru tidak lagi ditempatkan sebagai sosok yang dimuliakan, melainkan sekadar “pekerja” dalam sistem. Relasi antara guru dan murid kehilangan ruh penghormatan. Ketika guru tidak dimuliakan oleh sistem, maka murid pun tidak akan merasa wajib menghormatinya. Lebih jauh, budaya media sosial memperparah keadaan. Banyak siswa terdorong melakukan tindakan ekstrem demi mendapatkan perhatian dan pengakuan. Viralitas menjadi tujuan, sementara etika ditinggalkan. Nilai “keren” diukur dari seberapa berani melanggar norma, bukan seberapa tinggi menjaga adab.


Ini adalah bukti kegagalan sistem pendekatan sekuler dalam membentuk karakter generasi. Sistem pendidikan yang dibangun tanpa landasan nilai yang kokoh hanya akan melahirkan individu cerdas secara intelektual, tetapi kosong secara moral. Ketika ukuran benar dan salah ditentukan oleh kepentingan sesaat atau standar sosial yang berubah-ubah, maka perilaku menyimpang akan terus berulang. Pendidikan seharusnya tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian. Tanpa fondasi nilai yang jelas, proses pendidikan kehilangan arah. Inilah yang kita saksikan hari ini: generasi yang berani melawan otoritas yang seharusnya dihormati, tanpa rasa bersalah.


Jika kita kembali kepada solusi yang sudah Allah siapkan untuk mengembalikan pendidikan berbasis adab, maka kita harus merujuk kepada aturan-aturan yang ada dalam Islam. Masalah ini tidak cukup diselesaikan dengan hukuman administratif atau pendekatan psikologis semata. Dibutuhkan perubahan mendasar dalam sistem pendidikan—yakni mengembalikan posisi adab sebagai inti dari proses belajar.


Guru harus dikembalikan pada kedudukannya sebagai sosok yang dimuliakan. Bukan karena jabatan, tetapi karena perannya dalam membentuk generasi. Murid harus dididik untuk memahami bahwa menghormati guru bukan pilihan, melainkan kewajiban moral. Selain itu, sistem pendidikan harus memiliki standar nilai yang jelas dan konsisten dalam menentukan benar dan salah. Nilai tersebut harus menjadi landasan dalam kurikulum, metode pengajaran, hingga budaya sekolah.

Pelecehan terhadap guru bukan sekadar insiden, tetapi cerminan dari sistem yang gagal membentuk manusia beradab. Selama pendidikan masih terlepas dari nilai-nilai yang membentuk akhlak, maka kasus serupa akan terus terulang. Jika ingin memperbaiki keadaan, maka yang harus dibenahi bukan hanya perilaku siswa, tetapi sistem yang melahirkannya. Tanpa itu, wibawa guru akan terus direndahkan, dan pendidikan akan semakin kehilangan maknanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Mudik Tahunan : Macet Parah dan Kecelakaan terus Terulang

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan