Tempat Suci Ditutup, Umat Kehilangan Perisai
Oleh : Ummu Hayyan, S.P.
Penutupan kompleks masjid Al Aqsha di Yerusalem yang dilakukan oleh Zionis Israel telah berlangsung selama 16 hari. Penutupan tersebut tidak bisa dilepaskan dari eskalasi konflik yang tengah terjadi di kawasan. Di saat Zionis kembali melancarkan serangan ke Gaza yang menewaskan warga sipil dan bahkan tenaga medis, agresi militer juga meluas hingga Libanon yang menyebabkan korban jiwa serta kerusakan fasilitas umum. www.antaranews.com.
Ketegangan yang meningkat akibat konflik antara AS - Zionis dan Iran pun dijadikan alasan oleh otoritas Zionis untuk menutup seluruh situs suci di Yerusalem dengan dalih keamanan. Namun, kebijakan ini justru berdampak langsung pada umat Islam yang hendak beribadah terutama di bulan Ramadhan. Jamaah yang datang untuk menunaikan shalat tarawih terpaksa melaksanakannya di jalanan karena akses menuju Masjidil Aqsa ditutup.
Fakta bahwa penutupan ini disebut media setempat belum pernah terjadi sejak pendudukan Zionis atas Yerusalem pada 1967. Hal ini menunjukkan bahwa situasi yang terjadi bukan hanya soal keamanan, tetapi juga menggambarkan semakin terbatasnya akses umat Islam terhadap salah satu tempat suci mereka. Perang Iran ternyata menimbulkan dampak pada pemulihan Gaza yang dijanjikan AS. Warga Gaza mengaku merasa ditinggalkan setelah pembicaraan terkait rencana perdamaian yang diusulkan presiden Amerika Serikat pasca gencatan senjata. Warga Gaza yang hidup di pengungsian merasa ditinggalkan setelah pembicaraan terkait rencana perdamaian yang diusulkan presiden Amerika Serikat dilaporkan tertunda.
Apa yang terjadi di Al Aqsha bukan anomali, ia adalah konsekuensi yang tidak terelakkan dari kehancuran khilafah islamiyah pada 1924. Sejak hari itu, kaum muslimin kehilangan junnah (perisai), pelindung mereka. Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya imam (khalifah) adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung." (HR. Muslim).
Ketika perisai itu tiada, maka luka demi luka akan terus menganga. Shalat tarawih di jalanan Yerusalem hari ini adalah bukti nyata, bahwa tanpa pemimpin Islam, tidak ada satupun institusi di muka bumi yang sungguh-sungguh mampu dan mau membela kehormatan Al Aqsha.
Selama negara-negara yang mengaku membela Palestina masih berdiri di atas pondasi nasionalisme sempit dan tunduk pada tatanan internasional buatan barat, penindasan ini tidak akan pernah berhenti. Ketika rencana perdamaian Donald Trump disebut-sebut tertunda, warga Gaza di pengungsian mengaku merasa ditinggalkan. Perasaan itu tepat dan sesungguhnya bukan hal yang mengejutkan. Politik luar negeri negara-negara barat khususnya Amerika Serikat, sepenuhnya digerakkan oleh kepentingan. Setiap proposal perdamaian, setiap gencatan senjata, setiap rencana konstruksi yang datang dari Washington selalu mengandung agenda tersembunyi yakni melanggengkan dominasi, mengamankan kepentingan strategis, dan memastikan entitas Zionis tetap berdiri sebagai kepanjangan tangan imperalisme di Timur Tengah. Di balik Board of Peace (BoP), tampak nyata ada misi perampasan tanah Palestina demi menormalkan penjajahan dan mengintegrasikan Zionis ke dalam tubuh geopolitik Timur Tengah. Seolah ia adalah bagian yang sah dari kawasan ini. Hakikat entitas Zionis bukan sebagai negara yang lahir dari hak menentukan nasib sendiri, melainkan sebagai proyek kolonial yang ditanamkan oleh imperialisme Barat. Inggris terlebih dahulu, kemudian Amerika Serikat, sebagai jembatan untuk menancapkan kepentingan mereka di jantung dunia islam.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa sistem internasional saat ini dibangun di atas aqidah sekularisme dan mekanisme kapitalisme, yang tidak mengenal kategori hak dan batil. Yang dikenal hanya satu, yakni kepentingan. Negara adidaya menentukan narasi, menentukan siapa yang disebut teroris, dan siapa yang disebut pembela diri, menentukan resolusi mana yang diveto dan mana yang diloloskan demi meraih kepentingannya.
Sesungguhnya, tidak ada jalan keluar yang hakiki dari seluruh tragedi ini, kecuali dengan kembali kepada solusi yang datang dari Sang Pencipta manusia dan alam semesta. Apalagi hakikatnya Islam bukan hanya sekedar agama ritual, melainkan sistem kehidupan yang sempurna, yang wajib diterapkan oleh sebuah negara. Absennya negara Islam itulah akar dari seluruh kehinaan yang menimpa kaum muslimin hari ini.
Kebangkitan Islam yang hakiki hanya akan terwujud melalui tegaknya kembali negara Islam, negara yang menjadikan Al-Qur'an dan as-sunnah sebagai konstitusinya, negara yang memiliki tentara yang siap membela kehormatan kaum muslimin dan tidak akan pernah duduk di meja perundingan untuk menegosiasikan tanah yang Allah haramkan untuk diserahkan. Sebab, setiap perjanjian yang melegitimasi penjajahan adalah batil dan tertolak. Negara Islam bukan sekedar cita-cita, melainkan kewajiban syariat yang menjadi satu-satunya solusi hakiki untuk membebaskan Palestina dan negeri-negeri Muslim terjajah lainnya. Baik terjajah secara fisik maupun non fisik. Negara Islam akan dengan mudah mengusir entitas Zionis, membebaskan Al-aqsha, dan mencabut tuntas seluruh pengaruh imperialis Barat dari jantung dunia islam. Maka, kewajiban umat Islam hari ini adalah berjuang tanpa henti mengembalikan kepemimpinan Islam serta meruntuhkan sekat-sekat negara bangsa yang selama ini memecah dan melemahkan mereka, bukan dengan mengandalkan PBB atau Washington, melainkan dengan kesadaran politik Islam yang tulus dan perjuangan ideologis yang teguh. Wallahu a'lam bishawab.

Komentar
Posting Komentar