Mengungkap Upaya Hegemoni Global di Balik Serangan AS - Zionis terhadap Iran

 

Oleh : Ummu Hayyan, S.P.

Amerika Serikat bersama Zionis Yahudi telah memulai serangan ke Iran pada Sabtu 28 Februari 2026. Ledakan mengguncang ibukota Teheran dan beberapa kota lainnya. Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah tokoh penting Iran dikabarkan tewas akibat serangan tersebut. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memperkirakan operasi ini akan berlangsung sampai 4 pekan atau mungkin kurang. www.kumparan.com.

Amerika Serikat akan tetap menyerang Iran sampai semua tujuannya tercapai. Seperti pada Juli 2025, serangan Amerika Serikat Zionis kali ini juga terjadi kala Amerika Serikat dan Iran sedang berunding. Serangan kali ini dilancarkan tepat dua hari setelah putaran 3 perundingan Amerika Serikat - Iran selesai. Setelah satu setengah hari mendapat serangan, Iran tidak tinggal diam. Iran telah meluncurkan rudal - rudal terhadap entitas Yahudi dan pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di Teluk.

Perlu dipahami bahwa, serangan tersebut terjadi tatkala Iran beredar di orbit Amerika. Artinya, Iran telah berada dalam lingkaran kepentingan dan pengaruh politik luar negeri Amerika Serikat. Ia telah memberikan pelayanan - pelayanan dalam perang Amerika Serikat di Irak, Afghanistan dan terhadap bagian kawasan tersebut. Sudah lama Amerika tidak lagi secara intens  mengikuti perkembangan Iran. Pada 2015 di masa pemerintahan  Barack Obama, Amerika bahkan menandatangani perjanjian nuklir bersama Iran,  dengan melibatkan negara-negara Eropa.  Dalam kesepakatan itu, Iran diizinkan melakukan pengayaan uranium hingga batas 3,67 % untuk tujuan sipil. Selama periode tersebut, Iran berada dalam orbit Amerika. Namun , situasi berubah ketika Trump berkuasa. Ia mengambil sikap berbeda, yakni dengan menarik Amerika dari perjanjian tersebut dan meningkatkan tekanan terhadap Iran. Trump menginginkan Iran tunduk sepenuhnya pada kehendak Amerika dan menjadi negara pengikut.

Trump memulai pendekatan melalui jalur negosiasi. Namun, beralih pada tekanan militer bersama entitas Yahudi dengan apa yang disebut "serangan dua belas hari". Ia mengumumkan penargetan tiga fasilitas nuklir Iran. Serta mengklaim keberhasilan operasi tersebut dan mendesak Iran untuk mengakhiri perang. Menteri Pertahanan Amerika Serikat menyatakan bahwa serangan tersebut telah melenyapkan ambisi nuklir Iran. Namun, tekanan militer itu tidak berhasil mengubah posisi Iran dari sekedar negara satelit yang beredar di orbit Amerika menjadi negara pengikut yang tunduk pada kehendak Washington. Bahkan muncul suara-suara yang menyuarakan agar Iran keluar dari orbit Amerika. Amerika pun kembali memainkan kartu negosiasi dengan fokus yang sama, yakni pelucutan rudal dan nuklir Iran. Namun polanya berulang. Setelah beberapa putaran dialog, serangan kembali terjadi.

Bahaya Loyalitas terhadap Negara Kafir Penjajah 

Sungguh, para penguasa negeri Muslim tidak memahami bahaya loyal kepada kaum Kafir dan bahwa itu merupakan kehinaan di dunia dan di akhirat.

Allah SWT berfirman, yang artinya :

"Orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kemuliaan itu kepunyaan Allah." (TQS. an-Nisa : 139).

Penguasa negeri-negeri muslim hari ini tidak memahami, bahwa negara-negara kafir hanya mengutamakan kepentingannya dan bahkan mengusung permusuhan terhadap Islam dan kaum muslimin. Jika negara-negara kafir itu menempatkan keridhoan kepada satu negara yang berada dalam orbitnya atau bahkan kepada negara-negara agennya, maka mereka tidak menginginkan kebaikan bagi negara-negara tersebut. Melainkan menyembunyikan keburukan dan menampakkannya ketika diperlukan. Seandainya para penguasa negeri-negeri muslim itu, baik yang berada dalam orbit maupun yang menjadi agennya memahami bahwa Amerika tidak memberi mereka bobot sedikitpun, jika kepentingan Amerika menuntut mereka disingkirkan niscaya mereka akan mencampakkan orang-orang kafir. Namun, mereka tidak melakukannya. Loyalitas mereka kepada kaum kafir penjajah telah mencapai titik ketika salah satu negeri mereka diserang, yang lain tidak bergerak untuk membantunya.  

Pemimpin Islam Perisai Umat 

Sungguh, solusi atas persoalan ini adalah kembalinya kepemimpinan Islam. Di mana, pemimpin tersebut merupakan perisai bagi umat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : "Sesungguhnya seorang Imam atau khalifah adalah perisai, orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya." (HR. Muslim)

Pemimpin dalam Islam akan menyelamatkan umat Islam mengembalikan kemuliaannya, mengokohkan kekuatannya, dan membuat musuh-musuhnya berpikir seribu kali sebelum menyerangnya . Islam akan menyinari bumi dengan kebaikan dan keadilan. Sebagaimana dahulu negara Islam menghancurkan arogansi kaisar Romawi dan Kisra Persia. Demikian pula negara Islam yang dijanjikan Allah akan tegak kembali setelah keruntuhannya, akan meruntuhkan kesombongan para pengikutnya, seperti tiran Trump dan pihak-pihak serupa dari kalangan kaum kafir penjajah. Wallahu a'lam bishawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Living Together Berakhir Mutilasi, Buah Pahit Liberalisasi Pergaulan