Gaza Diblokade dan Dihancurkan. Dimana Perisai Kaum Muslimin?

 


Oleh : Yuli Atmonegoro 

(Aktivis Dakwah Serdang Bedagai)


Penjajahan atas Gaza terus berlangsung di hadapan mata dunia. Serangan demi serangan menghantam wilayah itu tanpa henti. Rumah sakit dihancurkan, kamp pengungsian dibombardir, bantuan kemanusiaan dihalangi, bahkan kapal-kapal pembawa bantuan pun disita di perairan internasional. Semua ini menunjukkan bahwa tragedi Gaza bukan sekadar konflik biasa, melainkan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan secara terang-terangan.


Terbaru, penyitaan kapal bantuan kemanusiaan menuju Gaza kembali membuka wajah asli penjajah Zionis. Aktivis ditangkap, relawan dilukai, lalu semua tindakan itu dibungkus dengan narasi “melawan terorisme”. Tuduhan semacam ini terus diulang untuk membungkam solidaritas terhadap Palestina. Siapa pun yang membantu Gaza dicurigai, ditekan, bahkan dikriminalisasi.


Padahal, dunia menyaksikan sendiri bagaimana rakyat Gaza hidup di bawah blokade bertahun-tahun. Mereka kekurangan makanan, obat-obatan, listrik, dan air bersih. Ribuan anak menjadi korban. Infrastruktur sipil dihancurkan hingga sebagian besar wilayah berubah menjadi puing. Namun semua pelanggaran itu justru tidak mampu dihentikan oleh hukum internasional, lembaga dunia, maupun negara-negara besar yang selama ini mengaku menjunjung hak asasi manusia.


Fakta ini membuktikan bahwa sistem global hari ini tidak pernah benar-benar dirancang untuk melindungi kaum tertindas. Hukum internasional hanya tajam kepada pihak lemah, tetapi tumpul terhadap penjajah yang didukung kekuatan besar dunia. Resolusi demi resolusi hanya menjadi kertas tanpa makna ketika berhadapan dengan kepentingan politik dan ekonomi negara-negara adidaya.


Yang lebih menyakitkan, negeri-negeri Muslim dengan jumlah penduduk besar, kekayaan melimpah, dan kekuatan militer yang kuat justru tidak mampu menghentikan penderitaan Gaza. Tidak ada langkah nyata yang benar-benar sanggup mematahkan blokade. Tidak ada kekuatan militer yang dikirim untuk melindungi rakyat Palestina. Semua berhenti pada kecaman, konferensi, dan pernyataan diplomatik yang berulang.


Inilah bukti nyata rapuhnya sistem negara-bangsa yang memecah belah kaum Muslim ke dalam batas-batas nasional. Ketika Palestina diserang, kaum Muslim di negeri lain hanya menjadi penonton tanpa kekuatan politik yang mampu bertindak secara nyata. Umat yang dahulu satu tubuh kini tercerai-berai oleh kepentingan nasional masing-masing.


Akar persoalannya bukan sekadar lemahnya diplomasi, tetapi karena tidak adanya kepemimpinan politik Islam yang benar-benar berdiri untuk menjaga darah, kehormatan, dan tanah kaum Muslim. Akibatnya, negeri-negeri Muslim mudah ditekan oleh kekuatan asing dan tunduk pada aturan internasional yang dibuat berdasarkan kepentingan negara-negara kapitalis.


Karena itu, tragedi Gaza seharusnya menyadarkan umat bahwa perjuangan membela Palestina tidak cukup hanya dengan doa, donasi, atau aksi emosional sesaat. Semua itu penting, tetapi belum menyentuh akar masalah. Umat membutuhkan kekuatan politik yang mampu menjadi perisai nyata bagi kaum Muslim, menjaga wilayah mereka, dan menghentikan agresi penjajah.


Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan pelindung umat. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menyebut pemimpin sebagai junnah, yakni perisai. Artinya, keberadaan kepemimpinan Islam berfungsi menjaga umat dari ancaman musuh, melindungi negeri-negeri Islam, dan menegakkan hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan.


Maka, kemarahan terhadap penjajahan Gaza harus diarahkan menjadi kesadaran politik umat. Kesadaran bahwa selama kaum Muslim tercerai-berai dan hidup di bawah sistem yang lahir dari penjajahan Barat, penderitaan seperti Gaza akan terus berulang. Sudah saatnya umat kembali memperjuangkan persatuan politik Islam yang berlandaskan akidah, mengikuti metode perjuangan Rasulullah shalallahu'alayhi wasallaam, agar lahir kembali perisai yang benar-benar menjaga kaum Muslim dan membebaskan Palestina dari penjajahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Mudik Tahunan : Macet Parah dan Kecelakaan terus Terulang

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan