Refleksi Hardiknas : Dunia Pendidikan Makin Buram Dan Memprihatinkan

Oleh : Asriani Ummu Rayyan

Setiap tanggal 2 Mei di peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS), pada momen ini dunia pendidikan kembali merefleksi kejadian dan fakta - fakta yang terjadi didunia pendidikan saat ini. Berikut beberapa fakta dan kejadian didunia pendidikan saat ini : 

1. Tiap Tahun Hari Pendidikan Nasional dirayakan, nyatanya dunia pendidikan makin buram dan memprihatinkan 

2. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual makin banyak dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa, ruang aman di sekolah dan di kampus tak terjamin

3. Kasus kecurangan dalam ujian, maraknya joki UTBK, dan budaya plagiat terjadi merata disemua lembaga pendidikan 

4. Pelaku dan pengedar narkoba dikalangan anak sekolah dan mahasiswa juga bertambah banyak

5. Perilaku pelajar menghina guru, atau memenjarakan guru karena memarahi atau menghukum siswa juga makin berani

Melihat fakta dan kejadian tersebut, pada tanggal 2 Mei 2026 diperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), di Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di  Banyuwangi , Jawa Timur, Sabtu (2/5). Dengan mengusung tema   ''Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua''. Upacara ini dipimpin langsung oleh Abdul Mu'ti sebagai  Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen).

Pada kesempatan tersebut Mendikdasmen menyampaikan amanatnya bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah proses mencerdaskan kehidupan, membangun watak, dan peradaban bangsa. ''Pendidikan adalah proses menumbuhkembangkan potensi manusia sehingga menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, sehat jasmani dan rohani, jujur, bertanggung jawab, demokratis, dan kepribadian utama lainnya''.

Upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut Kemendikdasmen mendorong penerapan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) sebagai program prioritas. Pendekatan ini menempatkan proses belajar sebagai  pengalaman yang bermakna dan berpusat pada pengembangan potensi murid secara utuh. ''Sebuah adagium populer menyebutkan : jika hendak memajukan bangsa, perbaiki pendidikan. Jika hendak memperbaiki pendidikan, perbaikilah mulai dari dalam kelas. Pembelajaran mendalam adalah ikhtiar yang dimaksudkan untuk mencapai cita ideal pendidikan nasional''.

Untuk mendukung implementasi tersebut, Kemendikdasmen telah menetapkan sejumlah kebijakan strategis berikut. Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran sebagai bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto telah membawa dampak nyata bagi dunia pendidikan. Pada tahun 2025, program revitalisasi telah menjangkau 16.167 satuan pendidikan. Sementara itu, program Digitalisasi Pembelajaran melalui penyediaan Interactive Flat Panel (IFP) telah dimanfaatkan di lebih dari 288 ribu satuan pendidikan.

Selain itu, Kemendikdasmen juga terus mendorong pemenuhan kualifikasi, peningkatan kompetensi, serta kesejahteraan guru sebagai kunci utama pembelajaran yang berkualitas. Penguatan karakter dilakukan melalui penciptaan lingkungan dan budaya sekolah yang aman dan nyaman, sesuai arahan Presiden tentang budaya ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah), agar sekolah dapat menjadi rumah kedua bagi semua murid. Di sisi lain, peningkatan kualitas pembelajaran diperkuat melalui penguatan literasi, numerasi, STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), serta Tes Kemampuan Akademik (TKA). Upaya ini turut diiringi dengan perluasan akses layanan pendidikan yang lebih mudah, terjangkau, dan fleksibel, melalui berbagai skema seperti sekolah satu atap, pendidikan jarak jauh, komunitas belajar, dan sekolah terbuka.

Dalam beberapa bulan terakhir, Kemendikdasmen telah meletakkan fondasi pendidikan nasional melalui berbagai regulasi dan penguatan ekosistem yang mengintegrasikan empat pusat pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, masyarakat, dan media. Upaya ini menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak dapat dilakukan secara sendiri, melainkan membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak.

Mengakhiri amanatnya, Mendikdasmen mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memperkuat kerja sama dalam memajukan pendidikan. “Mari kita perkuat kerja sama mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua menuju Indonesia yang cerdas, maju, dan bermartabat,” serunya.

Peringatan Hardiknas 2026 juga dimeriahkan dengan pagelaran seni “Kuntulan Ewon” yang melibatkan 1.100 pelajar, terdiri atas 600 pemusik dan 500 penari dari berbagai jenjang pendidikan. Penampilan ini menjadi simbol semangat kolaborasi dan keberagaman dalam dunia pendidikan.

Peringatan Hardiknas tahun ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga penguatan arah kebijakan pendidikan nasional. Melalui capaian yang telah diraih dan kolaborasi yang terus diperkuat, pemerintah berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi setiap murid di Indonesia.

Pendidikan Dalam Cengkraman  Kapitalis

Melihat, mendengar dan menyaksikan kondisi dunia pendidikan saat ini yang sudah sangat buruk di mata publik , maka dari itu ada beberapa faktor yang mendukung rusaknya dunia pendidikan saat ini yaitu : 

1. Kegagalan implementasi arah / peta jalan pendidikan sehingga menghasilkan pelajar yang krisis kepribadiannya, yaitu cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis sehingga jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab dan bermoral

2. Sistem pendidikan sekuler kapitalistik menghasilkan output orang - orang yang ingin sukses instan tanpa mau berusaha secara serius, juga orang - orang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang dalam jumlah besar.

3. Longgarnya sanksi negara bagi pelaku pelajar (mayoritas masih dibawah umur), sehingga menoleransi kriminalitas yang dilakukan sebagai kenakalan anak semata

4. Minimnya pendidikan nilai agama yang benar dalam pendidikan sekuler memperlebar ruang kebebasan yang akhirnya mengikis moral, dan kepribadian, bahkan mudah terseret pada tindak kejahatan dan kemaksiatan.

Sistem pendidikan sekuler kapitalistik ini merupakan sistem yang memisahkan dunia pendidikan dari kehidupan islam , sehingga lahirlah generasi yang kehilangan arah tanpa tujuan hidup yang jelas, dimana dunia pendidikan saat ini hanya sekedar berbekal ijasah untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan.

Inilah buah dari sistem sekuler kapitalistik yang memang tidak berlandaskan wahyu Allah SWT. Maka hasilnya adalah kebingungan, penyimpangan, dan kehancuran moral.

Oleh karena itu peringatan Hardiknas menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk memperbaiki kembali kondisi buruk dunia pendidikan saat ini.

Melihat dan mengamati wacana dari Mendikdasmen ini semoga bukan hanya sekedar wacana tetapi betul - betul dilaksanakan oleh dunia pendidikan saat ini. Dalam wacana Mendikdasmen tersebut ada beberapa poin penting  yang ketika dilaksanakan oleh dunia pendidikan saat ini pastinya itu bisa menjadi awal kebaikan dalam dunia pendidikan saat ini.

Pertanyaannya apakah disistem yang sekuler kapitalistik hari ini semua wacana tersebut bisa dilaksanakan ataukah hanya memilah dan memilih untuk bisa segera diterapkan didunia pendidikan saat ini?pastinya publik lebih bijak dalam menilai bagaimana kondisi dunia pendidikan saat ini yang memang diambang kehancuran.

Dunia Pendidikan Dalam Sistem Islam

Dalam islam, tujuan pendidikan bukan sekedar mencetak generasi cerdas, tetapi bagaimana islam mencetak generasi yang berkepribadian islam (Syakhsiyyah islamiyyah), yakni membentuk pola pikir ('aqliyyah) dan pola sikap (Nafsiyyah) yang didasarkan pada akidah islam.

Tujuan pendidikan ini terdapat dalam firman Allah SWT yang artinya : 

"Dialah (Allah) yang mengutus di tengah - tengah kaum yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka.Dia (bertugas) membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa/diri) mereka, serta mengajari mereka al-Quran dan hikmah; sementara mereka sebelumnya benar - benar ada dalam kesesatan yang nyata" (TQS al-Jum'ah[62]: 2).

Selain dari ayat tersebut Rasulullah saw. pun menjelaskan pentingnya akhlak mulia dan keutamaannya. Beliau bersabda yang artinya : "Sesungguhnya orang yang terbaik diantara kalian adalah yang paling bagus akhlaknya"(HR al-Bukhari).

Karena itulah para ulama dulu sangat menekankan pentingnya mendahulukan pembinaan adab/akhlak terlebih dulu sebelum penyampaian ilmu.

Adab (akhlak) adalah fondasi ilmu. Dengan itu sistem pendidikan islam melahirkan generasi para ulama dan ilmuwan yang cerdas sekaligus dipenuhi dengan keimanan dan ketakwaan.

Seperti halnya dulu  sejarah mencatat kegemilangan dunia pendidikan dalam sistem islam, dibawah naungan khilafah. Negara menjadi pelopor utama pendidikan, membangun ribuan madrasah, perpustakaan dan pusat riset. Pendidikan gratis, terbuka untuk semua kalangan dan diselenggarakan oleh negara dengan kualitas tinggi. Ini semua tercapai karena kokohnya pondasi akidah islam.

Peran negara dalam islam memiliki kewajiban langsung untuk menyelenggarakan pendidikan gratis  dan berkualitas bagi seluruh rakyat tanpa melihat status sosialnya dan juga dari segi keamanan, kelancaran gaji para guru tanpa membedakan gaji guru ASN dengan guru Honorer. Dalam sabda Rasulullah saw. yang artinya:"Imam (Khalifah) adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia pimpin" (HR al-Bukhari dan Muslim).

Kini saatnya umat islam kembali bersatu untuk bangkit dan mendukung penerapan islam secara kaffah dibawah naungan khilafah islamiyah. Agar dunia pendidikan  benar - benar melahirkan insan kamil yang cerdas, beradab, berilmu, beriman,  dan bertakwa sekaligus tidak melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan.

Allah SWT berfirman, yang artinya : "Apakah sistem hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum yang yakin? (TQS al-Maidah[5]:50).

WalLàhu a'lam bi ash-shawàb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Mudik Tahunan : Macet Parah dan Kecelakaan terus Terulang

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan