Tempe mengecil : Perajin Tempe Terhimpit, Rakyat Kian Menjerit !
Oleh : Reskidayanti
Melemahnya rupiah semakin menekan perekonomian masyarakat. Terutama mereka
yang punya usaha kecil. Salah satunya perajin tempe. Selama satu bulan terakhir
perajin tempe di berbagai wilayah mengeluhkan lonjakan harga kedelai yang di
impor dari luar.
Imbas kenaikan ini, para pedagang merasa sangat dilema antara menetapkan
harga jual dengan keuntungan yang semakin menipis. Mereka pun dengan berat hati
mengambil jalan dengan memperkecil ukuran tempe dan mengurangi produksi. Hal
ini dilakukan agar daya beli masyarakat tetap stabil. Walaupun tetap ada yang
komplain dengan ukuran tempe yang semakin kecil dari biasanya.
Tidak bisa dipungkiri juga bahwa tempe merupakan salah satu sumber protein
yang harganya cukup terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah, sehingga
kenaikan harga tempe akan semakin menekan kebutuhan masyarakat di tengah
kebutuhan pangan yang semakin sulit hari ini.
Tak hanya itu naiknya harga plastik sekitar 50% turut menambah beban modal
yang harus dikeluarkan perajin tempe, maka tak heran posisi mereka kian
terhimpit. Semua dampak ini pun tak bisa
dilepas dari selisih rupiah dan dollar yang semakin besar, sehingga nilai
rupiah semakin lemah di pasar global.
Ditambah lagi dengan kondisi pangan negara yang sangat bergantung
kepada impor, bahkan mencapai triliunan
rupiah khusus untuk impor bahan tempe saja. Maka bertambahlah beban masyarakat
kecil yang terkena imbas harga impor yang kian melonjak, untuk memenuhi
kebutuhan pokok mereka harus bertahan dengan kondisi semakin terhimpit dan
sulit.
Terhimpit dalam Ekonomi Kapitalisme
Merosotnya nilai rupiah sesunggunhya tak bisa dilepas dari pengakuan sistem
ekonomi apa yang sedang diterapkan hari ini. Pada kenyataanya dunia hari ini
mengadopsi sistem ekonomi berbasis kapitalisme.
Meskipun secara global penerapannya dominan di berbagai negara, namun
terbukti sepanjang jalur sejarahnya bukanlah sistem ideal bagi manusia. Sistem
ini telah menyebabkan berbagai krisis yang terus terulang, seperti masalah
ekonomi saat ini setidaknya dipicu oleh perdagangan eksternal, guncangan harga,
serta kestabilan politik global. Kerentanan terlihat dari penopang ekonomi
kapitalisme sendiri salah satunya uang.
Uang bukan hanya sekedar alat tukar, tapi juga dipandang sebagai komoditas
yang diperjualbelikan. Sehingga tinggi rendahnya nilai mata uang sangat
dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran di pasar uang. Tak hanya itu,
kenaikan harga uang pun tergantung pada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap
mata uang tertentu, seperti dalam sistem kapitalisme hari ini, dimana mayoritas
mata uang bersandar pada nilai dollar. Maka tak heran jika rupiah akan terus
tertekan nilainya di pasar global.
Begitupun dalam hal pangan, di sistem kapitalisme hari ini pangan
diperlakukan sebatas komoditas
bisnis yang tunduk pada mekanisme pasar
dan keuntungan semata. Akhirnya munculah paradoks besar yang tercermin dari
jumlah produksi yang terus meningkat,
namun kelaparan global justru semakin melebar. Pangan tak dipandang
sebagai kebutuhan dasar manusia yang wajib dijamin negara, sehingga kebutuhan
pangan masyarakat akan terabaikan seperti halnya dampak kenaikan keledai yang
berimbas pada salah satu sumber nutrisi masyarakat yaitu tempe.
Indonesia sebagai negara berkembang atau negara yang menuju maju dipaksa
untuk terus membuka pasar bebas sebagai dampak dari liberalisasi perdagangan
global. Sehingga tidak mau pasokan dalam negeri bergantung pada impor dan
rentan terkena krisis global. Tentu dampaknya seperti yang dirasakan para
perajin tempe hari ini. Gelisah dan dilema dengan kenaikan bahan pangan tempe,
di lain sisi harus tetap menjaga harga tempe tetap stabil di tengah goncangan
harga barang yang kian tak karuan.
Kondisi ini sungguh miris, ini bukan hanya sekedar persoalan tempe mengecil
tapi lebih jauh dan dalam ternyata akarnya memang telah rusak sejak awal. Maka
tak heran berbagai krisis bermunculan, rakyat kecil jadi korban. Sistem yang selalu melahirkan ketergantungan pada sentimen pasar
global, sehingga ini menunjukkan arah kebijakan pangan nasional akan sangat
rapuh dan bergantung pada gejolak dunia. Apakah layak sistem ini terus
dipertahankan, sedangkan rakyat sudah menjerit karena himpitan ekonomi yang tak
berpihak pada pemenuhan pangan sebagai prioritas ?
Butuh solusi Islam
Secara sistemik, penyelesainya pun tak sekedar memperbaharui produk yang
dihasilkan dari pabrik yang telah rusak. Tapi perlu perbaikan secara total,
dari pandangan ekonomi kapitalisme tersebut tidak lepas dari praktik ribawi
yang menyebabkan ketidakstabilan nilai uang sebuah negara. Maka perlu
alternatif solusi diluar daripada sistem kapitalisme. Seperti sistem Islam,
adapun dalam memandang uang, Islam hanya menempatkan fungsinya sebatas alat
tukar. Untuk itu, diberlakukan mata uang dinar dan dirham. Sebagai salah satu
perintah atau syariat Islam. Sebagaimana dalam hukum diat dan batasan potong
tangan yang mengaitkan mata uang emas dan perak, juga dalam kewajiban zakat
uang yang berstandar nisabnya dengan emas dan perak.
Dilihat dari perbandingan mata uang emas dengan kertas. Ada sejumlah
keunggulan yang terdapat dalam fakta emas, bahwa emas memiliki nilai fisik yang
tinggi dan sesuai pada kenyataan barangnya. Emas merupakan benda yang berharga,
jika ia dijadikan mata uang, maka uang yang berada di tangan kita punya nilai
yang sebanding dengan harga emas. Bukan sekedar selembar kertas yang nilainya
ditetapkan oleh pemerintah.
Emas pun jumlahnya terbatas, sehingga tak bisa sesuka hati untuk dicetak.
Alhasil perputarannya harus benar-benar diarahkan pada perdagangan barang dan
jasa yang keberadaanya nyata, bukan pada permainan uang atau spekulasi.
Sehingga kondisi ini akan mempersulit penumpukan kekayaan pada segelintir orang
saja. Perekonomian pun niscaya berjalan dengan lebih adil.
Islam juga memandang pangan bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai
kebutuhan pokok rakyat yang harus dijamin oleh negara. Oleh karena itu tidak
boleh menyerahkan urusan pangan kepada mekanisme pasar, atau menggantungkan
bahan pangan pada impor yang rentan terkena gejolak global.
Negara Islam akan membangun kemandirian pangan dengan pengelolaan yang
berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rakyat sebagai wujud periayaan umat.
Inilah bentuk tanggung jawab negara Islam, jadi tidak menempatkan negara
sebagai regulator, tapi pengurus langsung dalam memastikan ketersedian pangan
agar mudah dijangkau oleh masyarakat dengan harga lebih murah.
Bukan sekedar teori semata, secara historis tercatat bahwa para penguasa
dalam Islam sangat serius mengurus pertanian dan pangan rakyat. Pada awal pemerintahan
Islam di kota madinah, Rasulullah shallahllahu alaihi wasallam menetapkan
sebuah prosedur pembagian irigasi untuk kebun-kebun kurma milik kaum ansar dan
muhajirin secara bergantian.
Sangat wajar hal ini terjadi, sebab pangan dikelola dengan visi pelayanan
yang merupakan perintah dari Allah SWT., kebijakan berpihak pada rakyat dengan
dasar keadilan Islam, maka stabilitas bukanlah sebuah mimpi belaka, melainkan
sesuatu yang bisa diwujudkan dengan syarat Islam harus diterapkan secara
kaffah.
Wallahualam.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar