Tren Freestyle Merenggut Nyawa, Alarm Keras bagi Pendidikan Anak
Oleh : Reskidayanti
Tren Freestyle Merenggut Nyawa, Alarm Keras bagi Pendidikan Anak
Jangkauan media sosial yang semakin luas memberi pengaruh
yang cukup besar dalam tatanan kehidupan masyarakat modern. Bahkan, setiap
lintas generasi dianggap ketinggalan jika tak berselancar di dunia digital ini.
Apalagi kalangan anak-anak, mereka bahkan sampai tantrum jika tidak diberi
handphone. Dari ketergantungan inilah mereka dengan mudah mengetahui berbagai
informasi yang sedang viral dan menjadi tren di media sosial.
Salah satunya ialah tren freestyle, gerakan ekstrem yang
terinspirasi dari game online seperti Garena Free Fire dan banyak diikuti
anak-anak saat ini. Saking booming-nya gerakan ini, hampir setiap anak mampu
menirukan atraksinya. Bahkan, mereka menganggap aksi freestyle sebagai
permainan yang seru. Namun, di balik tren ini tersimpan kekhawatiran mendalam
yang dirasakan banyak orang tua ketika anak-anak melakukan atraksi tersebut.
Mirisnya, tren ini telah memakan korban jiwa. Dua orang
anak (TK dan SD) di Lombok Timur meninggal dunia akibat cedera leher setelah
meniru aksi freestyle (Kumparan.com). Tragedi ini membuat berbagai pihak, mulai
dari kepolisian, sekolah, KPAI, hingga dinas pendidikan mengimbau agar orang
tua lebih mengawasi penggunaan handphone, media sosial, dan tontonan anak-anak.
Tentunya, ini menjadi alarm keras bagi pendidikan anak saat ini. Benarkah
sistem pendidikan dan lingkungan hari ini telah mampu menjamin keamanan dan
keselamatan mereka?
Lemahnya Pilar Pendidikan Anak
Fenomena freestyle yang banyak ditiru anak-anak
menunjukkan bahwa sejatinya nalar mereka belum sempurna dalam memilah hal baik
dan buruk. Memang benar bahwa anak adalah peniru yang ulung. Mereka senantiasa
mengikuti kebiasaan yang ada di sekitar mereka. Apalagi dari tontonan yang
sering mereka lihat, sehingga sangat memungkinkan anak-anak meniru tren seperti
freestyle meskipun berbahaya. Karena itu, peran pengawasan dan pendampingan
orang dewasa sangat dibutuhkan untuk mengarahkan mereka kepada kebaikan dan
menjauhkan dari hal buruk yang bisa terjadi kapan saja.
Peran orang tua dalam pengawasan merupakan penjagaan
utama bagi anak-anak. Namun, kadangkala orang tua abai dalam mengatur tontonan
anak karena terlalu sibuk bekerja demi tuntutan ekonomi. Agar anak tidak rewel,
handphone diberikan secara bebas tanpa pengawasan yang memadai. Akibatnya,
minimnya kontrol orang tua membuat anak-anak leluasa mengakses berbagai
informasi yang berpotensi merusak.
Ditambah kondisi lingkungan yang mayoritas berbasis
digital, penggunaan handphone di berbagai kalangan menjadi hal yang dianggap
wajar, termasuk bagi anak-anak. Semua orang sibuk dengan media sosial
masing-masing hingga pengawasan terhadap anak semakin minim. Anak-anak pun
hanya melihat freestyle sebagai permainan yang menyenangkan. Akhirnya, tren ini
dinormalisasi secara kultural di tengah masyarakat. Mungkin ada sebagian yang
mengimbau agar anak-anak tidak melakukannya, tetapi banyak pula yang tidak peduli
dan membiarkan anak-anak mengikuti tren yang ada. Alhasil, lingkungan seperti
ini membuat pendidikan anak semakin tidak terarah.
Kondisi ini juga tidak lepas dari sistem yang lebih luas,
yakni negara. Gerakan freestyle merupakan tontonan berbahaya bagi anak-anak.
Namun, konten seperti ini tetap bebas bertebaran di media sosial. Bahkan, game
online yang mengandung unsur kekerasan dan aksi ekstrem membanjiri kalangan
anak-anak. Pembatasan konten yang dilakukan pun belum efektif. Akibatnya,
berbagai konten tidak bermanfaat bahkan berbahaya terus tersebar luas.
Kondisi yang miris ini saling berkaitan satu sama lain
hingga pengawasan terhadap keselamatan anak-anak menjadi lemah. Realitas
seperti ini wajar terjadi dalam sistem kehidupan berbasis kapitalisme. Tekanan
ekonomi membuat orang tua sibuk bekerja, sementara kehidupan berjalan layaknya
persaingan bebas; yang kuat bertahan dan yang lemah tersingkir.
Paradigma kapitalisme juga melahirkan ketimpangan ekonomi
yang besar di tengah masyarakat. Selain itu, negara dalam sistem kapitalisme
cenderung memandang segala sesuatu berdasarkan keuntungan materi. Apa pun yang
mendatangkan keuntungan besar akan dibiarkan terus beroperasi. Akibatnya,
keselamatan dan keamanan anak-anak tidak benar-benar dijadikan prioritas utama.
Lengkaplah sudah rapuhnya pilar-pilar yang seharusnya menjadi benteng
pendidikan anak, hingga akhirnya korban jiwa akibat tren freestyle pun terus
berjatuhan.
Pilar Pendidikan dalam Islam
Islam memiliki pandangan yang khas terhadap kehidupan,
termasuk dalam memandang anak-anak dan pendidikan mereka. Islam tidak
menjadikan realitas masyarakat sebagai standar dalam menentukan benar dan
salah. Justru realitaslah yang harus disesuaikan dengan sumber hukum Islam,
yakni Al-Qur’an dan Hadis.
Dalam Islam, anak-anak dipandang sebagai manusia yang
belum balig dan belum sempurna akalnya dalam membedakan baik dan buruk. Karena
itu, mereka belum dibebani taklif hukum secara penuh. Anak-anak membutuhkan
pendampingan dari orang tua maupun orang dewasa agar diarahkan kepada kebaikan.
Inilah konsep pendidikan dalam Islam, yakni adanya amanah besar untuk menjaga
dan membimbing anak-anak dengan benar.
Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan dan
pengasuhan anak-anak mereka. Menanamkan akidah Islam sejak dini hingga
mendampingi mereka agar tetap tumbuh dalam nilai-nilai Islam. Dari sinilah akan
terbentuk kepribadian anak yang kokoh dan tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal
yang berbahaya. Orang tua juga bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan
anak-anak, sebab seluruh amanah tersebut kelak akan dimintai
pertanggungjawaban.
Sebagaimana dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim,
Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa setiap pemimpin akan dimintai
pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang kepala keluarga adalah
pemimpin bagi keluarganya, begitu pula seorang ibu bertanggung jawab atas
anak-anaknya.
Pilar awal inilah yang akan membantu menjaga anak-anak
dari berbagai bahaya. Pilar kedua ialah masyarakat. Dalam Islam, masyarakat
berperan sebagai kontrol sosial melalui amar ma’ruf nahi mungkar untuk
menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak dan memberikan teladan yang
baik. Karena itu, ketika ada anak-anak melakukan hal ekstrem seperti freestyle,
masyarakat wajib menegur dan menasihati dengan cara yang baik agar mereka
memahami bahaya dari perbuatannya.
Adapun pilar ketiga dan yang paling menentukan ialah
negara. Dalam Islam, negara bertanggung jawab penuh terhadap kehidupan rakyat,
termasuk menjaga keselamatan anak-anak. Negara akan melakukan pengawasan ketat
terhadap berbagai informasi dan konten yang berpotensi merusak ataupun
membahayakan anak-anak. Sebab, keselamatan generasi lebih utama dibanding
keuntungan materi dari media sosial ataupun industri hiburan. Dari sistem
seperti inilah akan lahir generasi yang terjaga, terarah, dan memiliki peradaban
yang cemerlang.

Komentar
Posting Komentar