'Horor' Kemacetan Mudik, Butuh Solusi Sistemik

 

Oleh : Ummu Hayyan

Kecelakaan dan kemacetan parah selalu mewarnai arus mudik dan arus balik setiap tahunnya. Hal ini mencerminkan permasalahan yang terus berulang tanpa penyelesaian yang tuntas. Dari tahun ke tahun, loncatan mobilitas masyarakat pada periode mudik kerap tidak diimbangi dengan kesiapan infrastruktur serta manajemen transportasi yang memadai. Akibatnya, muncul masalah domino seperti kemacetan panjang, tingginya angka kecelakaan,  bahkan sampai menelan korban jiwa dalam jumlah yang tidak sedikit. Pada saat arus mudik beberapa hari lalu, seorang ibu rumah tangga asal Kebumen, Jawa Tengah dilaporkan meninggal dunia di dalam bus setelah pingsan saat bus yang ditumpanginya mengantri berjam-jam untuk keluar dari Bali di pelabuhan Gilimanuk. www.amp.suara.com.

Di tempat lain terjadi kecelakaan maut di Tol Pejagan - Pemalang (PPTR) KM 290 jalur B antara Bus dengan mobil LCGC Toyota - Calya. Kecelakaan terjadi pada Kamis, 19 Maret pagi, di mana jalur kecelakaan saat itu digunakan untuk one way arah Pemalang. Akibat kecelakaan ini, 4 orang penumpang meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka-luka. www.kumparan.com.

Data dari POLRI menunjukkan ada sebanyak 173 kecelakaan lalu lintas terjadi selama periode pemantauan arus mudik lebaran 2026, Selasa, 17 Maret 2026 pukul 18.00 WIB hingga Rabu 18 Maret 2026 pukul 06.00 WIB.  Dari jumlah tersebut 29 orang dilaporkan meninggal dunia. www.nasional.kompas.com.

Permasalahan kecelakaan dan kemacetan parah saat arus mudik ataupun balik yang terus berulang setiap tahun menunjukkan upaya pemerintah dalam menyelesaikan persoalan ini tampak kurang serius. Berbagai kebijakan cenderung bersifat teknis yang tidak mencakup lonjakan kendaraan, seperti rekayasa lalu lintas atau pengaturan arus kendaraan. Akibatnya, masalah yang sama terus berulang dari tahun ke tahun tanpa adanya perbaikan signifikan, baik dalam tingkat keselamatan maupun kelancaran perjalanan masyarakat. Persoalan mudik tidak dapat dilepaskan dari keterbatasan layanan transportasi massal yang nyaman, aman, dan terjangkau. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan dalam program magang dan studi independen bersertifikat, yang dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2024 - 10 November 2024, ditemukan bahwa 31% masyarakat jarang sekali menggunakan transportasi umum saat bepergian, sementara 23% masyarakat menggunakan transportasi umum setiap hari dalam aktivitasnya, di sisi lain terdapat 2% masyarakat yang sama sekali tidak pernah menggunakan transportasi umum ketika bepergian. www.goodstats.id. Data ini menunjukkan rendahnya persentase pengguna transportasi umum secara rutin, dapat menjadi indikasi adanya kendala seperti kurangnya aksesibilitas, kenyamanan, atau efisiensi. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi sehingga jumlah kendaraan di jalan melampaui kapasitas infrastruktur yang tersedia. Tak hanya itu, kondisi ruas jalan yang banyak rusak turut memperbesar resiko terjadinya kecelakaan. Kombinasi antara tingginya volume kendaraan dan buruknya kondisi infrastruktur inilah yang memperparah kemacetan sekaligus meningkatkan potensi kecelakaan selama periode mudik. Meskipun penyebab kecelakaan dan kemacetan saat arus mudik dan balik telah diketahui, negara cenderung tidak sepenuhnya hadir untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan masyarakat. 

Negara hanya mencukupkan pada persoalan teknis transportasi. Hal ini dikarenakan negara dalam sistem kapitalisme tidak mewujudkan fungsi roo'in atau pengurus yang mengurusi rakyat. Kapitalisme membuat negara abai menjamin keselamatan rakyat. Kebutuhan layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan murah dalam jumlah yang mencukupi hanya akan bisa disediakan oleh negara yang memiliki visi menjadi roo'in atau pengurus. Pasalnya, negara roo'in dibangun dari akidah Islam. Sehingga, paradigma mengurus rakyat lahir dari cerminan keimanan. Negara ini adalah institusi pemerintahan warisan Rasulullah SAW saat beliau memimpin sebagai kepala Negara Islam di Madinah. Karena itu, sebagai seorang muslim yang mendapat amanah sebagai pemimpin, wajib menjadikan kekuasaannya ada dalam visi roo'in ini. Hal inilah yang membuat negara mampu menjamin kemaslahatan masyarakat secara menyeluruh termasuk masalah transportasi. Negara Islam tidak akan membiarkan jalan rusak, kemacetan, dan kecelakaan menjadi masalah yang berlarut-larut. Layanan transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau dalam jumlah yang memadai akan dibangun oleh negara sebagai bentuk fungsi roo'in. Dengan begitu, ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat ditekan, kepadatan lalu lintas dapat diminimalisir, dan mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien serta aman. Selain itu, negara Islam bertanggung jawab menyediakan infrastruktur jalan yang aman dengan memperbaiki kondisi jalan. Kondisi jalan yang baik akan memperlancar mobilitas warga, menjamin keselamatan pengguna jalan, serta mencegah terjadinya kecelakaan. Kebijakan ini membuat masyarakat terhindar dari dhoror atau bahaya dalam bertransportasi. Konsep ini bukan teori, melainkan sesuatu yang sudah pernah terbukti sebelumnya. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a. Beliau membangun jalan-jalan yang menghubungkan kota-kota penting seperti Madinah, Kufah dan Basrah. Beliau juga menyediakan pos-pos peristirahatan atau manzil bagi musafir dan pedagang, bahkan memberi penerangan sederhana demi keamanan jalan. Belum lagi jalur haji dari Baghdad ke Mekah pada masa Khalifah Harun ar-rasyid. Seperti inilah pembangunan infrastruktur transportasi dalam negara Islam. Layanan transportasi tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memastikan keselamatan dan kemaslahatan masyarakat. Wallahu a'lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Living Together Berakhir Mutilasi, Buah Pahit Liberalisasi Pergaulan