“Setetes Perang di Timur Tengah, Rakyat Indonesia yang Panik: Bukti Lemahnya Sistem Energi Kapitalisme”

 


Oleh : Yuli Atmonegoro 

(Penggiat Literasi Serdang Bedagai)

Gelombang panic buying BBM yang terjadi di Sumatera Utara—dari Serdang Bedagai, Tebing Tinggi hingga Medan—bukan sekadar kepanikan biasa. Ribuan kendaraan mengular di SPBU hanya karena isu eskalasi perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah.


Pertanyaannya sederhana namun sangat mendasar : mengapa konflik ribuan kilometer jauhnya mampu membuat rakyat Indonesia panik membeli BBM?


Jawabannya menunjukkan satu fakta pahit, yaitu ketahanan energi negeri ini rapuh, karena tunduk pada sistem kapitalisme global yang dikendalikan oleh kekuatan besar dunia.


Perang Timur Tengah: Konflik Kepentingan Global

Ketegangan antara Iran di satu sisi dengan Amerika Serikat dan Israel di sisi lain bukanlah konflik baru. Selama puluhan tahun kawasan Timur Tengah telah menjadi medan perebutan kekuasaan dan sumber energi dunia.

Amerika Serikat secara terbuka berdiri di belakang Israel, negara yang selama ini menjadi sekutu strategis Barat di kawasan tersebut. Setiap kali konflik meningkat—baik melalui serangan militer, operasi intelijen, maupun tekanan ekonomi—dampaknya langsung terasa pada pasar energi global, terutama minyak dan gas.


Iran sendiri merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Setiap ancaman perang yang melibatkan Iran otomatis membuat pasar global bergejolak. Harga minyak naik, distribusi terganggu, dan negara-negara yang bergantung pada impor energi langsung merasakan dampaknya. Indonesia adalah salah satunya.


Panic Buying: Rakyat Menanggung Dampak Sistem yang Salah


Fenomena antrean panjang di SPBU di Sumatera Utara menunjukkan satu realitas:

rakyat hidup dalam sistem yang tidak memberikan rasa aman terhadap kebutuhan pokoknya sendiri. Padahal Indonesia adalah negeri yang kaya sumber daya alam. Namun dalam sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini, Energi diperlakukan sebagai komoditas bisnis, bukan kebutuhan publik. Sumber daya alam dikelola dengan logika untung-rugi korporasi. Negara hanya berperan sebagai regulator pasar, bukan pengelola utama kekayaan rakyat.

Akibatnya, ketika terjadi gejolak geopolitik di Timur Tengah, rakyat Indonesia langsung ikut merasakan dampaknya. Inilah yang melahirkan kepanikan massal seperti panic buying BBM.

Ketergantungan Energi: Warisan Sistem Kapitalisme

Ketergantungan Indonesia terhadap pasar energi global bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami. Ia merupakan hasil dari kebijakan ekonomi kapitalistik yang membuka pengelolaan sumber daya alam kepada korporasi dan mekanisme pasar internasional.

Padahal dalam pandangan Islam, sumber daya strategis seperti energi termasuk dalam kategori kepemilikan umum yang tidak boleh dikuasai oleh individu maupun korporasi.


Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.”

(HR. Abu Dawud)


Dalam konteks modern, “api” dipahami para ulama sebagai sumber energi, termasuk minyak, gas, dan listrik. Artinya, dalam sistem Islam, energi tidak boleh diprivatisasi. Negara wajib mengelola langsung sumber daya tersebut. Hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat, bukan keuntungan korporasi.



Jika prinsip ini diterapkan, maka kebutuhan energi masyarakat tidak akan mudah terguncang oleh konflik geopolitik global.


Sistem Islam: Ketahanan Energi yang Hakiki

Sejarah menunjukkan bahwa ketika hukum Islam diterapkan secara menyeluruh selama lebih dari 13 abad, wilayah-wilayah Muslim mampu mengelola sumber daya alamnya dengan stabil.

Negara dalam sistem Islam memiliki kewajiban untuk:

-Menguasai dan mengelola langsung sumber daya energi.

-Menjamin distribusi yang adil bagi seluruh rakyat.

-Menjaga kemandirian ekonomi dari tekanan negara-negara besar.



Dengan mekanisme ini, ketahanan energi tidak bergantung pada pasar global, melainkan pada pengelolaan negara yang amanah terhadap kepentingan rakyat.



Kepanikan Hari Ini adalah Alarm Besar


Antrean panjang di SPBU Sumatera Utara bukan sekadar fenomena lokal. Ia adalah alarm keras bahwa sistem yang mengatur ekonomi dan energi hari ini sangat rapuh.


Jika hanya sebuah isu perang saja mampu membuat masyarakat panik, maka jelas ada masalah besar dalam tata kelola energi negeri ini. Karena itu, solusi mendasar bukan sekadar menenangkan masyarakat atau menambah pasokan BBM sementara.


Solusi hakiki adalah mengubah cara pandang terhadap pengelolaan sumber daya alam, dari sistem kapitalisme menuju sistem yang menjadikan kekayaan alam sebagai milik bersama umat—sebagaimana diatur dalam syariat Islam.


Selama energi tetap diperlakukan sebagai komoditas pasar global, maka setiap gejolak dunia akan selalu berpotensi memicu kepanikan rakyat. Dan antrean panjang di SPBU akan terus menjadi pemandangan yang berulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Living Together Berakhir Mutilasi, Buah Pahit Liberalisasi Pergaulan