Gambar dari internet.

Rupiah Melemah, Beban Masyarakat Menengah - Bawah Makin Berat.

Mei 31 ,2026

Oleh : Asriani Ummu Rayyan


Depresiasi rupiah terhadap dolar membuat kondisi perekonomian di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Dimana nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp.17.590 hingga Rp. 17.660 per dolar AS. Sehingga berdampak pada masyarakat menengah ke bawah, kondisi ini langsung memicu lonjakan biaya produksi, harga kebutuhan pokok, naiknya harga - harga bahan baku dan juga energi.

Para pakar ekonomi menilai kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah yang paling rentan, karena selain terdampak inflasi, nilai tabungan atau investasi mereka perlahan ikut menyusut. Daya beli masyarakat menengah ke bawah yang selama ini hidup serba kecukupan dapat mempengaruhi keuangan mereka sehingga rakyat semakin terhimpit, kesulitan memenuhi kebutuhan hidup hingga berujung pada jeratan pinjol, dan lain - lain.

Pelemahan rupiah membawa dampak langsung terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat karena harus menghitung ulang pengeluaran rumah tangga dan menyesuaikan berbagai rencana hidup yang sebelumnya telah disusun. Ini sangat mempengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama untuk kebutuhan sekunder yang nilai dikurangi demi menjaga kestabilan ekonomi keluarga.

Pemerintah memandang apa yang dialami masyarakat masih dalam kondisi aman khususnya masyarakat kecil di wilayah pedesaan. Pernyataan ini membuat rakyat geram karena pemerintah terkesan  menyepelekan kasus pelemahan rupiah ini.

Akar Masalah

Konstelasi politik internasional (perang As-Iran) mempengaruhi aktivitas pasar global sehingga memicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Konflik geopolitik  internasional ini mempengaruhi ekonomi global termasuk ekonomi domestik Indonesia. 
Selain itu,  juga mempengaruhi kenaikan minyak dunia dan berbagai biaya kebutuhan dalam negeri. Dampaknya paling cepat dirasakan kelompok kelas menengah ke bawah. 

Tekanan ekonomi yang terus berlangsung dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas apabila tidak segera diantisipasi. 

Ketidak pekaan pemerintah terhadap realitas kondisi masyarakat, berujung pada kekeliruan penyelesaian masalah ekonomi ini.

Masyarakat pada akhirnya menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan problem tersebut, justru kebijakan yang dibuat semakin memperburuk keadaan (jumlah utang semakin melambung).

Sistem Ekonomi kapitalis Sekuler

Melemahnya nilai tukar rupiah ke dolar ini karena masih mengadopsi sistem ekonomi kapitalis sekuler. Meskipun sistem ini menjadi dominan karena diterapkan secara global,  tetapi ini bukan sistem ekonomi yang ideal. 

Sistem ini menimbulkan  berbagai krisis, khususnya di negara yang sedang berkembang salah satunya adalah Indonesia. Indonesia telah mengalami  krisis ekonomi yang selalu berulang. Masalah ini dipicu oleh perdagangan eksternal, guncangan harga, dan ketidakstabilan politik global.

Sistem ekonomi kapitalis sekuler ini digunakan sebagai alat penopang salah satunya adalah uang. Uang sebagai alat tukar dan juga komoditas yang diperjualbelikan. Tinggi rendahnya nilai rupiah, itu sangat dipengaruhi oleh jumlah permintaan dan penawaran rupiah di pasar uang.

Dalam sistem ekonomi kapitalis sekuler hari ini nyaris seluruh mata uang bersandar pada nilai dolar. Akibatnya naiknya nilai dolar sangat berdampak pada nilai mata uang dalam negeri. Langkah strategis yang diambil pemerintah dalam menaikkan suku bunga sebagai upaya pemulihan ekonomi dan menekan pelemahan nilai rupiah terhadap dolar sejatinya tetap akan menimbulkan masalah. 

Saat Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan, bunga pada instrumen investasi lokal akan turut naik. Investor  global akan melihat aset rupiah lebih menguntungkan dibandingkan mata uang lain dan memindahkan modalnya ke Indonesia.

Menurut analisis ekonomi tingginya suku bunga acuan ini akan membuat bunga kredit perbankan ikut naik, yang berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi dan  investasi dunia usaha. Ini merupakan tambal sulam  bagi seluruh perekonomian demi mencegah mata uang runtuh dan mengendalikan inflasi. Negara - negara penganut ekonomi kapitalis sekuler tetap saja mempertahankan pasar semu yang elitis , spekulatif, manipulatif, dan destruktif yang dampaknya pada kesenjangan ekonomi kian melebar.

Untuk itu negara memerlukan solusi yang solutif agar bisa keluar dari krisis ekonomi ini yang dibutuhkan bukan sekedar menaikkan suku bunga, atau juga mengoreksi nilai tukar, apalagi melakukan upaya tambal sulam untuk menolong ekonomi dalam negeri. Lebih lanjut, negara membutuhkan koreksi dan komparasi sistemis terhadap konsep ekonomi kapitalis sekuler sehingga menemukan sistem ekonomi , pengganti sistem kapitalisme sekuler yang saat ini menjadi arus ekonomi global.

Sistem Ekonomi Islam

Penerapan sistem ekonomi kapitalis sekuler yang tidak lepas dari bunga ribawi dan tidak memberikan solusi yang solutif tapi hanya  memberikan solusi jalan yang buntu. 

Berbeda dengan sistem ekonomi islam yaitu penerapan sistem yang dibutuhkan negara saat ini, dan juga merupakan solusi yang solutif bagi permasalahan kenaikan dolar terhadap rupiah, dengan  menerapkan sistem uang  yang lebih stabil, yakni dengan emas dan perak atau biasa dikenal sebagai Dinar dan Dirham.

Dalam sejarah panjang peradaban islam sistem ekonomi memegang peranan penting dalam membangun kejayaan umat. Salah satu instrumen penting dalam sistem tersebut adalah penggunaan mata uang Dinar dan Dirham. Kedua mata uang ini bukan hanya sekedar alat tukar, melainkan simbol stabilitas ekonomi, keadilan takaran, dan kemandirian peradaban islam yang mampu bertahan selama berabad - abad melintasi berbagai dinasti. 

Pada masa awal islam, Rasulullah SAW tidak langsung mencetak mata uang sendiri. Kaum muslimin menggunakan Dinar (Emas) yang berasal dari Romawi (Byzantium) dan Dirham (Perak) dari persia (Sasanid). Namun islam menetapkan standar  berat dan kadar yang ketat untuk menjamin keadilan dalam muamalah (transaksi). 

Sejarah transformasi dari penggunaan mata uang asing hinggga pencetakan mata uang islam yang mandiri merupakan perjalanan sejarah yang menarik dan penuh hikmah   bagi umat masa kini.

Secara etimologi, kata Dinar berasal dari bahasa Romawi Denarius, sedangkan Dirham berasal dari bahasa yunani Drachma. Pada masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin, mata uang ini digunakan berdasarkan bobotnya, bukan sekedar jumlah kepingan, untuk memastikan nilai intrinsik yang adil. Standar berat yang ditetapkan Rasulullah SAW adalah : 1 Dinar setara dengan 4,25 gram emas, dan 1 Dirham setara dengan 2,975 gram perak (berdasarkan wazan tujuh persepuluh).

Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah (Sekitar tahun 74 - 77 Hijriyah). Beliau melakukan reformasi moneter besar -  besaran dengan mencetak Dinar dan Dirham islam pertama yang murni.

Ciri khas mata uang baru ini adalah hilangnya gambar - gambar raja atau simbol api (Zoroaster) dan salib yang sebelumnya ada pada koin Romawi dan persia. Sebagai gantinya, koin tersebut diukir dengan kaligrafi Arab yang memuat kalimat Tauhid dan kutipan ayat Al - Qur'an. Langkah ini menegaskan kedaulatan ekonomi islam yang independen dari pengaruh imperium asing.

Keberadaan emas dan perak sebagai harta dan alat tukar yang diakui juga termaktub dalam Al-Qur'an. Penyebutan ini menunjukkan bahwa Dinar dan Dirham adalah bagian dari sejarah para Nabi terdahulu hingga masa Rasulullah SAW.

Dalil tentang Dinar (Emas) Allah SWT berfirman mengenai amanah dalam menjaga harta (QS. Ali 'Imran : 75), Artinya: "Dan di antara Ahli Kitab ada yang jika engkau percayakan kepadanya harta yang banyak, niscaya dia mengembalikannya kepadamu. Tetapi ada (pula) di antara mereka yang jika engkau percayakan kepadanya satu dinar, dia tidak mengembalikannya kepadamu, kecuali jika engkau selalu menagihnya..."(QS. Ali 'Imran: 75).

Dalil tentang Dirham (Perak) dalam kisah Nabi Yusuf AS, disebutkan penggunaan Dirham sebagai alat jual beli, (QS. Yusuf: 20) Artinya:"Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa keping perak (dirham) saja, dan mereka merasa tidak tertarik kepadanya."(QS. Yusuf: 20)

Sejarah Dinar dan Dirham mengajarkan kita bahwa islam memiliki perhatian besar terhadap keadilan ekonomi. Mata uang berbasis emas dan perak memiliki nilai intrinsik yang stabil, anti-inflasi, dan tidak mudah dimanipulasi, berbeda dengan uang kertas (Fiat) yang nilainya bisa tergerus waktu.

Semua ini bisa terwujud kalau negara mau kembali ke sistem ekonomi islam dibawah naungan khilafah islamiyah. 

Dalam sistem ini negara akan menjaga stabilitas harga - harga dengan mekanisme tertentu yang ditetapkan syarat , seperti larangan riba, jaminan distribusi, pengaturan kepemilikan dan lain - lain.

Kesejahteraan masyarakat menjadi tanggung jawab pemimpin, karena ia adalah ra'in sekaligus junnah yang wajib melindungi masyarakat dari kesengsaraan hidup.

WalLaahu a'lam bi ash-shawaab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Mudik Tahunan : Macet Parah dan Kecelakaan terus Terulang

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan