Peringatan Nakba : Pengingat Kelam terhadap Penjajahan Palestina yang tak Henti
Oleh : Haura (Pegiat Literasi)
Sejak Mei 1948 Palestina terjajah. Akibat tragedi Nakba 78 tahun lalu, sekitar 75% populasi Arab Palestina diusir paksa entitas Yahudi atas dukungan Inggris, mereka harus kehilangan tempat tinggal dan mengungsi ke wilayah Jalur Gaza, Tepi Barat, dan negara-negara tetangga seperti Yordania, Lebanon, dan Suriah.
Palestina porak poranda, sampai hari ini tidak ada kedamaian di sana bahkan sebagian besar wilayahnya dikuasai Israel. Berbagai upaya dan perjuangan rakyat Palestina untuk mengusir penjajah terus dilakukan. Namun nyatanya tidak menyurutkan Israel bangsa Yahudi untuk menghentikan penjajahan.
Meskipun secara Internasional, lebih dari 150 negara telah mengakui Palestina sebagai negara berdaulat, realitas di lapangan justru menunjukan kelanjutan pendudukan militer Israel atas Palestina.
Tragedi Nakba bukan sekedar untuk diperingati bukan pula sekedar sejarah masa lalu, melainkan mengingatkan kaum muslim tentang siklus kekerasan dan perampasan hak serta penjajahan yang masih terus membayangi Palestina sampai hari ini.
Dilansir antaranews. com 15/05/26, Liga Arab mendesak perlindungan Internasional bagi rakyat Palestina dan meminta komunitas global untuk memaksa Israel agar menghentikan pendudukan ilegal mereka atas tanah Palestina, termasuk Yerusalem Timur.
Tanpa mengecilkan upaya yang dilakukan berbagai negara atau lembaga, sayangnya, dukungan tersebut tersekat oleh nasionalisme, mengatasnamakan liga Arab mencerminkan ketidak kompakan pemimpin muslim dunia. Diamnya para pemimpin muslim dunia menjadikan Palestina terus dijajah dan Israel makin pongah menjajah dan melakukan perluasan wilayah.
Penjajahan Palestina yang tidak berhenti adalah potret kegagalan sistem dunia yang tegak saat ini dalam menciptakan perdamaian dunia. Ini pula sekaligus menunjukkan keburukan konsep nasionalisme yang membuat umat Islam sulit dipersatukan dan kehilangan kekuatannya.
Pembebasan Palestina tidak bisa diharapkan datang dari negara-negara adidaya, lembaga-lembaga internasional seperti BRICS yang menyerukan komunitas nasional agar terus mendukung bangsa Palestina mencapai kemerdekaan dan kedaulatan, ataupun lembaga regional. Semuanya justru untuk mengokohkan penjajahan terhadap umat Islam.
Sebab sekat nasionalisme membatasi bangsa-bangsa lain terutama negara muslim untuk membantu perjuangan rakyat Palestina. Akibatnya Palestina berjuang sendirian, negara-negara muslim tampak berjalan masing-masing bahkan disibukkan dengan problem negaranya masing-masing. .
Karenanya, Kaum Muslim harus menyadari bahwa pembebasan Palestina tidak bisa dicapai dalam sistem sekuler kapitalisme saat ini. Pembebasan harus menjadi agenda utama Kaum Muslim dunia yaitu dengan beralih kepada sistem kepemimpinan Islam dunia. Hanya kepemimpinan Islam yang diharapkan dapat mengusir penjajahan entitas Yahudi dan mengalahkan kekuatan pendukungnya.
Kesadaran tersebut dapat terwujud dengan menanamkan pemahaman kepada umat tentang urgensi hidup di bawah naungan kepemimpinan Islam sebagai wujud keimanan melalui jalan dakwah.
Kepemimpinan Islam akan menyatukan umat dan menggerakan kekuatan umat Islam mengusir para penjajah, mampu menegakan keadilan dan mengurus urusan dunia demi kemaslahatan bersama sehingga kewibawaan umat Islam dapat diraih, siap merebut kembali kepemimpinan dunia sebagaimana dulu Islam pernah memimpin selama kurang lebih 14 ahad serta menebar rahmat ke seluruh alam.
Wallahu a'lam bi shawab
Komentar
Posting Komentar