Resistensi Gen Z di Tengah Krisis Mental

 Oleh : Ummu Hayyan 

Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan produktivitas yang semakin tinggi, Gen Z pun menghadapi tekanan yang tidak ringan. Kekhawatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama gangguan mental, dengan proporsi mencapai 60%. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian yang besar terkait karier, stabilitas ekonomi, hingga kondisi global.

Selain itu, tekanan finansial juga menjadi faktor signifikan 57%, diikuti oleh ekspektasi sosial 42% serta perasaan tidak berdaya terhadap situasi yang berada di luar kendali 36%.

Dampaknya pun terlihat dalam berbagai bentuk gangguan yang mereka alami sehari-hari. Perubahan suasana hati atau mood swing menjadi masalah paling umum dialami 62% responden, disusul gangguan tidur seperti insomnia atau tidur berlebihan dengan 50%. Selain itu, kecemasan berlebih (38%) dan kesulitan mengelola emosi (38%) juga menjadi tantangan yang kerap dihadapi. data.goodstats.id.


Berbagai survei menunjukkan bahwa remaja merupakan kelompok yang rentan mengalami kecemasan dan gangguan kesehatan mental. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, bahwa hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 - 2026 terhadap sekitar 7 juta anak, menunjukkan 4,4% mengalami gejala kecemasan dan 4,8% mengalami gejala depresi. tirto.id.

Fenomena ini juga terjadi secara global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan satu dari tujuh remaja usia 10 - 19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Kondisi tersebut menyumbang sekitar 15% dari beban penyakit Global pada kelompok usia ini, meski sebagian besar kasus belum terdeteksi dan tertangani dengan baik. www.kompas.id.

Kecemasan yang banyak dialami generasi Z tidak muncul tanpa sebab. Fenomena ini merupakan konsekuensi dari krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini. Mulai dari ketidakstabilan ekonomi, perubahan sosial yang cepat, krisis lingkungan, hingga meningkatnya ketidakpastian masa depan. 

Survei deloitte menunjukkan, bahwa kekhawatiran terbesar generasi Z adalah biaya hidup sebesar 53%, diikuti masalah pekerjaan 22%, perubahan iklim 21%, kesehatan mental 19%, dan keamanan pribadi 17%.

Sementara itu, laporan Harmony healthcare it tahun 2023 mencatat bahwa, satu dari dua anggota generasi Z merasa cemas setiap hari akibat ketidakpastian masa depan, kondisi keuangan, pekerjaan, serta relasi sosial. Sebanyak 46%, juga mengaku merasa sendirian menghadapi kesulitan tersebut. Di tingkat Global, terdapat sekitar 262 juta generasi Z yang tidak bekerja, bersekolah, maupun mengikuti pelatihan.

Besarnya kekhawatiran generasi Z terhadap biaya hidup, pekerjaan, dan masa depan menunjukkan bahwa problem yang mereka hadapi bukan sekedar persoalan psikologis, melainkan berkaitan erat dengan kondisi sistem yang mengatur saat ini. Realitasnya, kebutuhan hidup terus meningkat. Sementara, akses terhadap kesejahteraan semakin sulit dijangkau oleh banyak orang. 

Hal ini disebabkan oleh sistem kapitalisme yang melegalkan kebebasan kepemilikan, membuat para pemilik modal bisa menguasai hajat kehidupan manusia. Sistem kapitalisme juga membatasi peran negara, sehingga tidak lagi berfungsi sebagai penanggung jawab utama dalam menjamin kebutuhan rakyat. Akibatnya, berbagai kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan semakin bergantung pada mekanisme pasar yang sarat ketidakpastian. Kondisi ini membuat generasi muda harus menghadapi tekanan ekonomi yang besar sejak usia produktif.

Kapitalisme yang berasaskan sekularisme juga gagal memberikan landasan nilai yang kokoh bagi kehidupan. Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, manusia kehilangan tolok ukur yang benar dalam menentukan tujuan hidup dan menilai kebahagiaan. Dampaknya, generasi z tidak hanya menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga terjebak dalam krisis identitas, kecemasan, dan kehilangan makna hidup. 

Kondisi ini semakin diperparah oleh minimnya perhatian terhadap generasi muda. Generasi Z kerap distigma sebagai generasi yang lemah, manja, atau tidak tahan menghadapi tekanan, tanpa adanya upaya yang serius untuk memahami tantangan khas yang mereka hadapi.

Namun, berbagai tekanan tersebut justru memunculkan gelombang resistensi yang mendorong kesadaran Dan keberanian untuk bangkit menuju kondisi yang lebih ideal.

Di tengah multi krisis yang tengah melanda kalangan pemuda, sebenarnya sejak dulu Islam telah datang untuk memberi ketenangan hidup. Dalam Quran surah Ar-Ra'du ayat 28, Allah ta'ala pencipta manusia telah berfirman, yang artinya :

"Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram". 

Islam mengajarkan individu harus memiliki keyakinan, bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar. Keyakinan inilah yang membuat manusia bisa kuat menghadapi semua ujian kehidupan. 

Hal ini dibuktikan dengan karakter generasi muda yang sangat kuat di masa kejayaan Islam. Mereka berkepribadian Islam dan cakap dalam berbagai bidang keilmuan. Sebagai contoh, para sahabat yang dibina oleh Rasulullah dalam partai politik Hizbur Rasul menjadi manusia militan dalam mengemban dakwah, hingga menjadi sosok-sosok pemimpin maupun orang-orang yang dibutuhkan oleh umat.

Namun, upaya ini tidak semata-mata upaya individu. Allah juga memerintahkan agar sistem kehidupan yang dibangun oleh masyarakat dan negara wajib berdasarkan ketakwaan, agar individu-individu tersebut memiliki support system untuk tawakal kepada Allah.

Allah ta'ala berfirman, yang artinya:

"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi" (QS. Al-A'raf : 96).

Dalam masyarakat Islam, standar kebaikan tidak diukur dari materi, melainkan dari amal shalih. Sehingga setiap orang terdorong berlomba dalam kebaikan. 

Negara Islam yakni Khilafah berfungsi sebagai raa'in (pengurus) yang bertanggung jawab menjamin kebutuhan dasar rakyat seperti lapangan kerja, kebutuhan primer, pendidikan, kesehatan, keamanan, serta penegakan keadilan. Dengan peran tersebut, kesejahteraan dapat dirasakan secara merata. Masyarakat terbebas dari kecemasan akan masa depan, karena negara hadir menjamin keberlangsungan hidup mereka. Seperti inilah syariat Islam yang benar-benar membawa ketenangan bagi jiwa-jiwa yang tengah gundah gulana. 

Atas dasar itu, generasi muda saat ini perlu menyadari peran strategis yang mereka miliki dalam membawa perubahan ke arah Islam Kaffah ke tengah masyarakat. Dengan kesadaran tersebut, cita-cita menghadirkan generasi emas tidak lagi menjadi sekedar harapan, melainkan tujuan yang dapat diwujudkan bersama.

Wallahu a'lam bishawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Mudik Tahunan : Macet Parah dan Kecelakaan terus Terulang

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan