Pelajar Jadi Pengedar Sabu: Potret Buram Sistem Sekuler Yang Gagal Menjaga Generasi
Oleh : Yuli Atmonegoro
(Penggiat Literasi Serdang Bedagai)
Kasus demi kasus kembali membuka luka lama bangsa ini: generasi muda yang seharusnya menjadi harapan, justru terseret dalam pusaran kejahatan narkoba. Fakta terbaru menunjukkan betapa daruratnya kondisi ini.
Di Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, dua orang—SH (26) dan KF yang masih berstatus pelajar—ditangkap saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah. Ironisnya, salah satu pelaku adalah pelajar, simbol masa depan yang seharusnya dijaga, bukan dibiarkan terjerumus.
Belum selesai di sana, di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, aparat kembali meringkus seorang pelajar berinisial HS (19). Dari tangan pelaku, ditemukan puluhan paket sabu yang tersebar di berbagai lokasi. Ini bukan sekadar penyimpangan individu, melainkan sinyal bahaya bahwa generasi muda sedang berada di titik rawan.
Ini bukan kebetulan. Ini kegagalan sistem.
Ketika pelajar berubah menjadi pengedar narkoba, pertanyaannya bukan lagi “siapa yang salah?”, tetapi “sistem apa yang telah gagal?”. Sistem sekuler kapitalistik yang hari ini diterapkan telah memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, pendidikan tidak lagi membentuk kepribadian yang berlandaskan iman, tetapi sekadar mencetak individu yang mengejar materi tanpa arah moral yang kokoh.
Dalam sistem seperti ini, agama direduksi menjadi urusan privat. Ia tidak hadir sebagai penjaga akal, pengarah perilaku, dan pembentuk standar halal-haram dalam kehidupan sehari-hari. Maka wajar jika pelajar mudah tergelincir, karena tidak memiliki benteng internal yang kuat.
Lebih dari itu, lemahnya sistem pendidikan dan penegakan hukum semakin memperparah keadaan. Pendidikan gagal menanamkan nilai yang membentuk ketakwaan, sementara hukum seringkali tidak memberikan efek jera yang nyata. Alhasil, narkoba tetap beredar, dan generasi muda menjadi sasaran empuk sekaligus pelaku.
Solusi tidak cukup tambal sulam. Harus menyentuh akar.
Islam memandang persoalan ini secara mendasar, bukan parsial. Sistem pendidikan Islam bertujuan membentuk kepribadian Islam—yakni pola pikir dan pola sikap yang terikat pada syariat. Pelajar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran kuat akan halal dan haram.
Peran keluarga pun tidak bisa diabaikan. Orang tua dalam Islam adalah pendidik utama yang bertanggung jawab menanamkan akidah dan akhlak sejak dini, bukan sekadar menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah. Keteladanan menjadi kunci, bukan hanya nasihat.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab kolektif melalui mekanisme amar makruf nahi munkar. Lingkungan yang kondusif bukan tercipta secara alami, tetapi dijaga bersama dengan kepedulian sosial yang tinggi terhadap kemaksiatan.
Dan yang tak kalah penting, negara harus hadir dengan kebijakan yang tegas dan sistemik. Sanksi hukum dalam Islam bersifat zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus), sehingga mampu memberikan efek jera sekaligus menjaga masyarakat dari kejahatan yang sama.
Generasi adalah amanah, bukan korban sistem.
Kasus pelajar menjadi pengedar sabu adalah alarm keras bahwa ada yang salah dalam pengelolaan kehidupan hari ini. Jika sistem yang sama terus dipertahankan, maka tragedi serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang.
Saatnya berhenti menyalahkan individu semata. Yang harus dikoreksi adalah sistem yang melahirkan kerusakan itu sendiri. Karena generasi tidak boleh dibiarkan menjadi korban dari sistem yang gagal menjaga mereka.

Komentar
Posting Komentar