Persatuan Mampu Mengalahkan Hegemoni Global


 Oleh : Reskidayanti 

Persatuan Mampu Mengalahkan Hegemoni Global

Usai bergejolak selama kurang lebih 40 hari, ketegangan perang antara AS–Israel dan Iran diredam dengan adanya gencatan senjata. Narasi publik pun kian beragam dalam menanggapi hal tersebut. Pihak-pihak terkait mengklaim meraih kemenangan dengan tercapainya kesepakatan gencatan senjata ini.

Seperti pihak Iran yang menegaskan bahwa usai Presiden Amerika Serikat, Trump, menangguhkan serangan selama dua pekan, Dewan Keamanan Tertinggi Iran merespons bahwa mereka telah menang melawan Amerika–Israel. Iran mengklaim telah memaksa Amerika Serikat untuk menerima rencana 10 poinnya. Pada akhirnya, AS pada prinsipnya setuju untuk mencabut sanksi primer dan sekunder terhadap Iran serta menarik pasukan tempur dari semua pangkalan di kawasan tersebut (detiknews.com).

Potensi Kaum Muslim

Iran, dalam hal ini sebagai negara dengan penduduk Muslim, memberikan inspirasi besar bagi negara-negara kaum Muslim lainnya. Di tengah konflik geopolitik yang kian memanas, peristiwa ini membuka mata dunia bahwa dominasi politik global tidak hanya dibangun oleh kekuatan militer dan ekonomi semata. Sebagaimana asumsi lama bahwa Amerika dan Israel merupakan negara dengan kekuatan yang seolah tak tersentuh, kini anggapan tersebut mulai terpatahkan oleh strategi perlawanan Iran.

Faktanya, Amerika dan Israel mengalami kesulitan dalam menaklukkan Iran, padahal Iran hanya satu negeri Muslim. Bahkan soliditas blok kekuatan Barat menunjukkan adanya keretakan, terlihat dari ketidakmampuan Amerika untuk memaksa sekutu-sekutunya terlibat langsung dalam konflik. Hal ini memberikan sinyal kuat bagi negara-negara kaum Muslim bahwa dominasi global memiliki keterbatasan. Perang ini memberikan pelajaran bahwa peta kekuatan tidak selalu bergantung pada besarnya aliansi, tetapi juga pada ketahanan, kemandirian, dan keberanian dalam menghadapi musuh.

Namun realitas hari ini menunjukkan kondisi yang pahit. Sebagian negeri kaum Muslim justru memilih berpihak dan bersekutu dengan kepentingan Amerika, yang seharusnya dapat bersinergi dengan sesama negara Muslim sebagai bentuk soliditas akidah. Kepentingan politik justru diletakkan di atas persaudaraan seakidah.

Padahal, dari berbagai aspek, negeri-negeri Muslim memiliki potensi besar untuk membentuk peta kekuatan baru jika mampu bersinergi. Lebih dari 50 negeri yang tersebar di berbagai belahan dunia memiliki prasyarat yang memadai, mulai dari sumber daya alam yang melimpah, posisi geografis yang strategis sebagai jalur perekonomian dunia, hingga jumlah populasi yang besar.

Jika seluruh potensi tersebut disatukan dalam satu visi, maka kaum Muslim dapat mengimbangi bahkan mengalahkan hegemoni global yang sarat kepentingan penjajah. Ketahanan dan perlawanan Iran menunjukkan bahwa meskipun menghadapi tekanan besar, satu negeri Muslim mampu memperlihatkan kemandirian strategis dan daya tahan domestik dalam menghadapi superioritas militer AS. Apalagi jika potensi tersebut bersatu dalam satu kepemimpinan, kekuatannya akan semakin sulit ditandingi.

Urgensi Persatuan

Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam konflik ini Iran berada dalam kelompok Syiah yang oleh sebagian kalangan dinilai menyimpang, para ulama Saudi menyepakati bahwa penduduk Iran tetap termasuk Muslim dan bagian dari kaum Muslim. Kondisi ini juga tidak terlepas dari ketiadaan kepemimpinan global Islam yang mampu menjaga kemurnian akidah.

Dalam konteks ini, jelas bahwa musuh utama umat Islam adalah pihak-pihak yang melakukan kezaliman dan menebar kerusakan bagi umat manusia, seperti pembantaian yang dilakukan Israel terhadap penduduk Palestina dengan dukungan Amerika Serikat. AS juga melakukan berbagai tindakan agresif, termasuk serangan militer yang melanggar batas kedaulatan negara lain.

Berbagai kejahatan dan kezaliman tersebut tidak akan dapat dihentikan jika umat Islam terus berada dalam kondisi lemah dan terpecah-belah. Oleh karena itu, sudah saatnya kaum Muslim menyadari pentingnya persatuan negeri-negeri Muslim sebagai kekuatan untuk menghadapi hegemoni Barat. Persatuan yang diikat oleh ideologi Islam akan mampu menghapus sekat-sekat yang selama ini memecah belah umat.

Persatuan di bawah naungan sistem pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah) akan menjadi pelindung (junnah) bagi umat, menjaga jiwa, kehormatan, dan harta mereka. Dengan persatuan ini, negeri-negeri Muslim dapat terbebas dari penjajahan, dan Islam dapat tersebar ke seluruh dunia untuk membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya kemuliaan hidup, sebagaimana peradaban Islam pernah menjadi mercusuar dunia selama lebih dari 13 abad.

Sebab, khilafah merupakan bagian dari ajaran Islam, dan pengangkatan khalifah adalah kewajiban yang telah dijelaskan dalam berbagai kitab ulama terdahulu berdasarkan sumber hukum Islam. Di antaranya firman Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:

{وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً}


“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’”

Menurut Al-Qurtubi, ayat ini menjadi dasar bagi pengangkatan imam atau khalifah yang wajib didengar dan ditaati guna menyatukan umat serta menegakkan hukum-hukum Islam.

Komentar

  1. Masya Allah tabakallah semoga tulisannya menginspirasi publik tentang pentingnya persatuan ummat,

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Mudik Tahunan : Macet Parah dan Kecelakaan terus Terulang

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan