Urbanisasi, Kesenjangan Setelah Lebaran
Oleh : Ummu Mumtazah
Fenomena urbanisasi sering terjadi setelah lebaran Idulfitri, mereka yang pulang ke desa atau mudik, kembali lagi ke kota. Seringkali mereka yang berhasil di kota menjadi motivasi bagi yang tinggal di desa untuk pergi ke kota. Mereka yakin setelah di kota akan berhasil seperti saudaranya, keluarganya, temannya dan lain-lain. Mereka memimpikan orang-orang yang berhasil di kota dan terdorong hatinya untuk bekerja dan tinggal di kota.
Ketika melihat banyaknya orang yang berpindah dari desa ke kota (urbanisasi), terlihat jelas ada sebuah ketimpangan ekonomi antara desa dan kota. Mereka beranggapan bahwa hidup di desa sudah tidak layak lagi dan memilih untuk pindah ke kota. Padahal di desa juga bisa sukses ketika bisa mengembangkan keterampilan sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Dengan banyaknya berpindah ke kota, apalagi dikalangan remaja, maka akibatnya desa kehilangan SDM muda. Sedangkan kota terbebani secara demografi karena banyaknya penduduk yang masuk ke kota.
Masyarakat tidak hanya kembali ke kota setelah berlibur di desa, tetapi juga membawa serta saudara, teman, bahkan keluarga besarnya untuk mencari peluang pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik di kawasan aglomerasi perkotaan. www.metrotvnews.com. (27 Maret 2026)
Urbanisasi Ala Kapitalisme
Sistem kapitalisme telah mengubah daya fikir masyarakat untuk hidup di kota dan berharap agar kehidupan mereka lebih baik daripada tinggal di desa. Sebab, alokasi anggaran untuk kota lebih banyak dari pada untuk desa. Seperti halnya, dengan adanya alokasi anggaran yang bersifat Jakarta sentris dan kota sentris, sedangkan desa menjadi tempat yang terabaikan. Walaupun ada program ekonomi untuk desa (seperti kopdes dan bumdes), itu hanya bersifat pencitraan, tidak benar-benar untuk memajukan desa. Padahal, pemenuhan bahan pokok menjadi kewajiban negara untuk memenuhinya bagi setiap masyarakat, tanpa memandang kaya dan miskin. Namun, kenyataannya program ekonomi yang masuk ke desa justru menjadi bancakan proyek menguntungkan segelintir pihak, yaitu korporasi atau perusahaan.
Hal tersebut jelas, betapa cacatnya sistem yang berlaku saat ini karena segala sesuatu dinilai dari aspek materi saja dan yang berkuasa adalah pemilik modal.
Islam, Solusi Urbanisasi
Islam mengatur segala urusan dalam setiap aspek kehidupan. Di mana para pelaku ekonomi dalam masyarakat harus selalu terikat dengan aturan Islam sebagai pedoman dalam kehidupan.
Dalam Islam, politik ekonomi tujuannya mewujudkan pembangunan yang merata di desa maupun di kota, sehingga tidak terjadi ketimpangan ekonomi di tengah masyarakat. Sebab, negara menjalankan tugasnya sebagai pengurus urusan umat. Negara menjamin pemenuhan kebutuhan orang per orang. Di mana pun mereka berada, akan dilakukan pembangunan ekonomi untuk melayani kebutuhannya.
Sebagain contoh, di dalam sektor pertanian, pelaksanaannya dikelola oleh negara dengan baik, sehingga dapat memajukan masyarakat desa. Hal ini dilakukan sebagai langkah nyata menuju swasembada pangan yang dijamin pemerintah untuk meningkatkan tingkat ekonomi masyarakat yang dinamis dan berkelanjutan.
Dalam sistem Islam, negara melakukan inspeksi sampai ke pelosok desa untuk memastikan bagaimana keadaan rakyatnya, sehingga tahu betul kondisi dan kebutuhan mereka, apakah dalam keadaan lapar ataupun kenyang. Seperti yang dilakukan khalifah Umar bin Khathab. Karena pemimpin yang paham syariat Islam dan mengetahui kewajibannya, tidak akan menelantarkan rakyatnya, apalagi menzaliminya. Karena dalam sistem Islam, seorang pemimpin benar-benar melakukan tugasnya dengan amanah yaitu sebagai pelaksana hukum syariat Islam dan sebagai pengurus urusan umat. Tatkala pemimpin itu lalai dan tidak melakukan tugasnya menurut syariat Islam, maka akan berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak di akhirat.
Maka, adanya urbanisasi yang jumlahnya semakin tinggi dalam sistem kapitalisme, menjadi bukti kegagalan pemerintah dalam meriayah (mengurus) umat.
Tentunya akan berbeda bila dibandingkan dengan sistem Islam yang pernah memimpin selama tiga belas abad. Di mana, sistem Islam berhasil menghilangkan kesenjangan ekonomi antara masyarakat kota dan desa.
Maka tidak ada yang bisa dilakukan kaum muslimin saat ini, kecuali bersatu untuk mewujudkan penerapan syariat Islam secara kaffah dalam setiap aspek kehidupan.
Wallahu a'lam.
Komentar
Posting Komentar