Para buruh berduka : Bukti gagalnya sistem kapitalis

 



Oleh: Intan Suciati 

Guru



PHK massal merupakan bumerang bagi para masyarakat khususnya pada kepala keluarga. Tekanan ini menjadi konflik global yang hampir semua orang merasakannya. Lemahnya nilai rupiah dan meningkatnya pajak memicu terjadinya krusial dimana-mana.


Mentri keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi sorotan publik akibat merosotnya nilai tukar rupiah dan isi pencopotan jabatan yang akan digantikan oleh Mentri keuangan Muhammad Chalib Basri. Rumor tersebut mencuat dan menimbulkan ke khawatiran kondisi ekonomi pasar saat ini. Dimana nilai rupiah menembus level 18.000 per dolar. Akibat dari merosotnya nilai tukar rupiah pabrik manufaktur di Depok Jawa barat PT Xacti Indonesia atau pa Rik Sanyo. Memilih tutup usahanya demi menstabilkan pasar, sebanyak 350 karyawan yang telah mengabdi bertahun-tahun harus rela dan berlapang dada menerima kenyataan surat keputusan PHK yang dikeluarkan oleh PT. Xacti Indonesia.


Selain itu juga melemahnya nilai rupiah ini memicu naiknya harga-harga bahan baku hingga 20%, BBM naik di sejumlah daerah, membengkaknya hutang-hutang negara dan masih banyak lagi.



PHK terjadi akibat sistem kapitalis yang menjadikan buruh menjadi komoditas semata.

Kapitalis hanya menguntungkan bagi segelintir orang saja terutama pemilik modal 

Kapitalis sistem yang memperkaya diri, ketika para buruh di PHK massal, mereka tidak mampu menopang buru yang kehilangan pekerjaannya.



Dalam konsep sistem Khilafah, dalam Islam Negara punya tanggung jawab mengayomi umat. Umat akan diayomi dan di jamin kesejahteraannya dengan konsep ri'ayah menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan rakyat. Negara selalu standby dalam menyediakan keamanan, pendidikan dasar, layanan kesehatan, dan jaring pengaman sosial seperti baitul mal untuk fakir miskin, anak yatim, orang tua jompo. Kewajiban negara memfasilitasi lapangan kerja. Setiap orang yang mampu harus diberi akses bekerja. Baitul mal juga bisa digunakan untuk modal usaha, pelatihan kerja, atau proyek infrastruktur yang menyerap tenaga kerja. Umar bin Khattab RA misalnya dikenal membuka "diwan" dan proyek irigasi untuk memberi kerja ke rakyat.

Dengan demikian, dalam sistem pemerintahan sekuler saat ini, semua solusi personal maupun sistematik nyatanya tidak mampu menyelesaikannya dan telah gagal dalam penerapannya. Sebab, solusi tersebut hanya buatan manusia dan sifat manusia itu berubah-ubah serta elastis. Solusi untuk sistem pemerintahan yang sejalan adalah sistem pemerintahan Islam. Sistem yang didasarkan atas dasar aqidah Islam dan penerapannya berdasarkan atas dasar aqidah Islam begitu juga berdasarkan syariat Islam. Hanya dengan sistem khilafah yang semua peraturannya dari pencipta yang mampu mengatasi problematika kehidupan, termasuk Maslah ekonomi.


Kekuasaan hakikatnya adalah Amanah yang bisa menjadi beban pemangku nya di dunia sekaligus di akhirat. Nabi Saw bersabda :

Kepemimpinan itu awalnya bisa mendatangkan cacian, kedua bisa berubah menjadi penyesalan dan ketiga bisa mengundang azab dari Allah pada hari kiamat, kecuali orang yang mempunyai dengan kasih sayang dan adil 

(HR.ath-Thabarani).


Nabi Muhammad Saw bahkan pernah mendoakan para pemimpin yang tidak amanah, yang menyusahkan umat dengan doa yang buruk.

Ya Allah, Siapa saja yang mengurus urusan umatku, lantas dia membuat mereka susah, maka susahkanlah dia. Siapa saja yang mengurusi umatku, lantas dia mengasihi mereka, maka kasihilah dia.

(HR. Muslim).


Wallahu'alam bi shawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Mudik Tahunan : Macet Parah dan Kecelakaan terus Terulang

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan