Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

Keracunan Massal MBG: Jangan Sekadar Salahkan SOP, Ini Bukti Gagalnya Sistem Mengurus Rakyat

Gambar
Oleh : Yuli Atmonegoro  (Aktivis Dakwah Serdang Bedagai) Kasus keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh dipandang sebagai sekadar kelalaian petugas, pelanggaran SOP, atau kesalahan teknis di lapangan. Terlalu sederhana jika pemerintah hanya mengatakan, "SOP harus diperbaiki." Sebab pertanyaan sebenarnya adalah: Mengapa program yang menyangkut keselamatan ribuan anak justru bisa dijalankan dalam sistem yang membuka begitu banyak celah terhadap kelalaian, bisnis, kepentingan, dan permainan keuntungan? Keracunan massal bukan sekadar kesalahan dapur. Ini adalah alarm keras bahwa ada persoalan sistemik dalam cara negara mengurus rakyatnya. Rakyat Butuh Gizi, Bukan Proyek Bisnis. Makan bergizi adalah kebutuhan dasar rakyat, terutama anak-anak yang sedang tumbuh. Seharusnya negara memastikan setiap anak mendapatkan makanan yang aman, sehat, halal, bergizi dan layak dikonsumsi. Bukan menjadikan pemenuhan kebutuhan rakyat sebagai proyek besar yang melibatk...

Karhutla Berulang, Perempuan dan Generasi Menanggung Beban Berlapis

Gambar
  Sumber : news.okezone.com Oleh : Asriani Ummu Rayyan Karhutla Berulang, Perempuan dan Generasi Menanggung Beban Berlapis Setiap musim kemarau tiba, kekhawatiran yang sama kembali menghampiri Kebakaran Hutan dan Lahan (KARHUTLA). Asap  menyelimuti berbagai wilayah di Indonesia, kualitas udara menurun, aktivitas masyarakat terganggu, dan pemerintah harus mengerahkan sumber daya dalam jumlah besar untuk memadamkan api. Padahal, fenomena ini bukanlah peristiwa baru. KARHUTLA hampir selalu  berulang setiap tahun.  Pertanyaannya mengapa KARHUTLA selalu berulang? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar Kebakaran Hutan dan Lahan bukan merupakan bencana alam murni seperti adanya musim kemarau dan atau adanya fenomena El-Nino. Tapi  KARHUTLA terus berulang akibat pembukaan lahan masif, sementara respon pemerintah sebatas pemadaman di hilir tanpa menyetop pemicu utama di hulu.  Penyebab utamanya berkaitan dengan aktivitas manusia dengan cara membakar la...

Maulid : Momentum Meneladani Metode Perjuangan Nabi SAW

Oleh : Ummu Mumtazah (Pegiat Literasi) Setiap tahun di bulan Rabiul Awal seluruh umat Islam merayakan Maulid dengan berbagai aktivitas keagamaan sebagai bukti kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Momen tersebut dilakukan  dengan penuh suka cita dan khidmat. Namun,  di balik perayaan tersebut, mereka hanya memaknai sebagai peringatan saja. Misalnya, dengan pembacaan sholawat, tabligh akbar, bahkan pawai. Namun substansinya kerap berhenti sampai pada aspek ritual dan emosional saja.  Dikutip dari nasional.sindonews.com. Jakarta, sambut Rabiul awal 1448 Hijriyah, Kementrian Agama  (Kemenag) mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk bersolawat. Peringatan Maulid Nabi ini digelar melalui kegiatan Bissful Maulid 1448. Dalam perayaan Maulid tersebut, satu agenda utamanya adalah Gema Sholawat Kebangsaan, gerakan nasional yang mengajak masyarakat memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. Direktur Penerangan Agama Islam Kementrian Agamaj Muchlis M....

Karhutla Berulang, Kapitalisme Biangnya

Oleh : Ummu Hayyan (Pegiat Literasi) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meluas di Indonesia. Titik api tidak hanya muncul di Kalimantan, tetapi juga Sumatera dan Jawa. Sepanjang Januari hingga Juni 2026 luas lahan terbakar di 5 provinsi di Kalimantan mencapai 57 ribuan hektar. Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup menyebut sekitar 85.000 hektar kawasan konsesi perusahaan di Indonesia turut terbakar akibat karhutla. Dampaknya yang serius kabut asap bahkan melintasi perbatasan Malaysia dan mengganggu aktivitas serta kesehatan masyarakat. Kementrian Kesehatan mencatat lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten kota terpapar asap sementara kasus ISPA meningkat 78% seiring meluasnya karhutla.  Polri telah menetapkan 72 tersangka di Kalimantan dan Sumatera yang diduga sengaja membakar hutan untuk membuka lahan perkebunan sawit. Pemerintah mengandalkan operasi satgas darat dan water bombing untuk memadamkan api. Namun Ironi, kebakaran terus berulang. Saat api meluas, masyarakat k...

Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup

Gambar
Oleh : Reskidayanti Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup Gen Z saat ini adalah generasi dominan. Besar kecilnya peradaban ke depan sangat bergantung pada kualitas mereka. Namun faktanya, jumlah Gen Z yang besar tidak sebanding dengan kualitas hidup yang mereka jalani. Salah satunya dari segi finansial. Lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat. Hal ini dianggap sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Di sisi lain, biaya hidup semakin hari semakin mahal dan sulit terjangkau. Jakarta menempati posisi teratas sebagai kota dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia. Rata-rata biaya hidup di Jakarta mencapai Rp14,88 juta per bulan, berdasarkan data BPS. Sementara itu, UMR Jakarta tahun 2026 hanya berada di angka Rp5.726.876. Makassar juga mencatat biaya hidup sekitar Rp11,5 juta per bulan, salah ...