Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

Ketika Pengungsian Belum Menjadi Tempat yang Aman, Akibat Pemerintah Tidak Serius

Gambar
 Oleh: Yuli Atmonegoro  (Aktivis Dakwah Serdang Bedagai) Gempa adalah bencana alam. Namun, jatuhnya korban setelah bencana bukan semata-mata persoalan alam. Di sanalah kemampuan negara dalam melindungi rakyat diuji. Gempa Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 meninggalkan duka panjang. BNPB mencatat 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa. Sementara itu, 94 warga meninggal ketika berada dalam masa pengungsian. Setelah dilakukan verifikasi bersama Kementerian Kesehatan, BNPB menjelaskan bahwa mayoritas korban merupakan lansia dengan penyakit kronis seperti stroke dan diabetes.  Fakta ini justru menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sistem penanganan bencana benar-benar dirancang untuk melindungi seluruh korban, termasuk mereka yang paling rentan? Pengungsian bukan sekadar memindahkan manusia dari rumah yang rusak ke tenda. Pengungsian seharusnya menjadi tempat perlindungan: tersedia makanan, air, sanitasi, tempat tinggal yang layak, obat-o...

BBM dan LPG Langka, Negara ke Mana?

Oleh Ummu Hayyan (Pegiat Literasi) Kelangkaan bahan bakar minyak atau BBM kembali terjadi. Kali ini kondisi tersebut melanda kota Makassar dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Selama sepekan terakhir, antrian kendaraan di SPBU maupun Pertamini dilaporkan memanjang hingga ratusan meter bahkan beberapa kilometer. Kondisi ini mendorong pemerintah mengambil langkah untuk mengurangi mobilitas masyarakat. Pembelajaran dilakukan secara daring, sementara pegawai diarahkan bekerja dari rumah. Tak hanya BBM, kelangkaan juga terjadi pada LPG 3 kg. Persoalan ini memicu aksi demonstrasi yang melibatkan mahasiswa, pengemudi ojek online, dan organisasi masyarakat. Aksi tersebut berlangsung di kantor PT Pertamina Patra Niaga regional, Sulawesi Makassar.  Di sisi lain, pemerintah provinsi Sulawesi Selatan justru membentuk satuan tugas untuk menghadapi situasi ini. Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaeman mengatakan bahwa Satgas akan mengecek dugaan pengisian BBM berulang, modifikasi ta...

"Programnya Bagus, Tapi Hanya Salah dalam Menjalankannya." Benarkah Itu?

Gambar
  Oleh: Siti Nur Zahra (Aktivis Dakwah Serdang Bedagai) Banyak kasus keracunan dikarenakan MBG (Makan Bergizi Gratis) akhir-akhir ini yang kita temukan. Dan Lokasi kejadian beragam. Di antaranya termasuk di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur; Kabupaten Rembang, Jawa Tengah; Kabupaten Agam, Sumatra Barat; Tana Toraja, Sulawesi Selatan; dan Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Total keseluruhan Korban keracunan sejak program MBG ini berjalan sudah 50.000 orang yang terdampak. Tetapi sampai saat ini pemimpin masih belum ada andil bagaimana menyelesaikan permasalahan yang pada nyatanya kejadian buah dari hasil yang telah dia perbuat.  Pemimpin sampai saat ini masih di buat oleh singgasana yang telah ia dapatkan. Sungguh miris sekali, ini progam ia yang luncurkan dan ketika ada permasalahan dalam program yang ia buat beliau malah tidak ada andil sama sekali. Dan permasalahan yang terjadi saat ini juga bukan hanya kesalahan pemimpin, tetapi juga di campurkan oleh kepentingan kepentingan pribadi...

Swasembada Pangan , Harga Pangan Melambung : Ironi di Tengah Ketahanan Pangan

Gambar
  Oleh: Intan Suciati (Aktivis Dakwah Serdang Bedagai) Harga bahan pangan kian naik, disejumlah daerah salah satunya di kabupaten Intan Jaya. Rata-rata kenaikkan harga ayam secara nasional berkisar 41 ribu hingga mencapai 100/ kg. Dari badan pusat statistik (BPS) kenaikkan harga-harga ayam hingga Agustus 2026 terjadi 220 kabupaten atau 61,11 persen wilayah Indonesia . Disejumlah daerah termasuk Rokan hilir terjadi sebanyak 238 per kg atau 25,60 persen  Secara nasional PIHPS Indonesia mencatat pada 1 September dari 17 komoditas yang dipantau mengalami kenaikkan dan mengalami penurunan. Menurut anggota DPRD DKI Jakarta dari fungsi yang tidak stabil terjadi akibat contranct faming yang selama ini menjadi salah satu instrumen dalam mendukung ketahanan pangan jakarta . Jika swasembada pangan bertujuan menjamin kesediaan dan ketahanan masyarakat.mengapa disejumlah daerah masih mengalami kesenjangan ekonomi yang cukup tinggi? Swasembada pangan seharusnya memenuhi kebutuhan pangan ma...

Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

Gambar
  Oleh: Yuli Atmonegoro  (Aktivis Dakwah Serdang Bedagai) Pemerintah berencana membuat rekening secara massal bagi sekitar 200 juta warga, terutama mereka yang memasuki usia 17 tahun. Rekening tersebut akan dibuat melalui BRI dan BSI, dengan saldo awal Rp50 ribu. Jika dikalikan dengan jumlah penerima, kebijakan ini membutuhkan anggaran hingga sekitar Rp11 triliun. Pertanyaannya sederhana: untuk siapa sesungguhnya kebijakan sebesar ini dibuat? Pemerintah berdalih bahwa rekening massal diperlukan untuk membuat penyaluran bantuan sosial lebih efisien dan tepat sasaran sekaligus meningkatkan inklusi keuangan. Sekilas terdengar rasional. Namun, ketika negara sedang menghadapi tekanan fiskal, kebijakan dengan anggaran triliunan rupiah semestinya diuji dengan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ini benar-benar kebutuhan rakyat atau justru menciptakan kebutuhan baru yang sebenarnya tidak mendesak? Jika persoalannya adalah ketepatan sasaran bansos, maka problem utamanya bukan ketiad...

Permasalahan Al-Aqsa, Bukan Konflik Antar Agama

Oleh Ummu Hayyan (Pegiat Literasi) Pemukim Zionis berupaya menerobos dan membakar masjid Nur al-Din Zengi di Bazaria Barat Laut Nabulus, pada Selasa dini hari, 1 September, serta  mencoretkan slogan bernada rasis dan ancaman terhadap warga Palestina. Serangan terhadap tempat suci ini diduga kuat menjadi bagian dari kebijakan sistematis. Pasalnya pada saat yang sama, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir menerobos masuk ke kompleks masjid al-aqsa di Yerusalem Timur. Ia memasuki kompleks tersebut pada senin 31 Agustus dengan perlindungan pasukan pendudukan Zionis. Ia juga menyerukan pembangunan kuil Yahudi Sinogage di lokasi tersebut. Ia juga mengungkap rencana untuk mengeluarkan 1,86 juta warga Palestina dari Gaza dalam kurun waktu 7 tahun dengan dalih migrasi sukarela.  Hal yang sama juga diungkapkan oleh Menteri Pertahanan Israel Katz bahwa, pemerintahnya telah menyiapkan rencana untuk memindahkan warga Palestina dari jalur Gaza. Yang dilakukan Ben-Gvir di Al Aqsh...

Karhutla Bukan Sekadar Bencana, tetapi Bukti Gagalnya Tata Kelola Negara

Gambar
  Oleh: Yuli Atmonegoro  (Aktivis Dakwah Serdang Bedagai) Kebakaran hutan dan lahan kembali meluas. Asap kembali menyelimuti langit. Warga kembali sesak napas. Anak-anak kembali terancam penyakit. Bahkan korban jiwa telah berjatuhan. Sementara negara-negara tetangga ikut terdampak kabut asap dan mulai mempertanyakan kemampuan Indonesia dalam mengatasi persoalan yang terus berulang ini. Namun, pertanyaannya bukan sekadar, mengapa karhutla kembali terjadi?Pertanyaan yang lebih penting adalah, mengapa negara terus gagal mencegahnya? Karhutla yang terus berulang bukan semata-mata bencana alam. Ini adalah akumulasi dari kegagalan tata kelola, lemahnya pengawasan, dan sistem pengelolaan hutan yang membuka jalan bagi kepentingan korporasi untuk menguasai sumber daya alam. Hutan Diprivatisasi, Rakyat Menanggung Bencana Selama ini, negara lebih sering hadir setelah api membesar. Pemadaman dilakukan. Bantuan disalurkan. Status darurat ditetapkan. Pesawat dikerahkan. Anggaran digelontork...

Keracunan Massal MBG: Jangan Sekadar Salahkan SOP, Ini Bukti Gagalnya Sistem Mengurus Rakyat

Gambar
Oleh : Yuli Atmonegoro  (Aktivis Dakwah Serdang Bedagai) Kasus keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh dipandang sebagai sekadar kelalaian petugas, pelanggaran SOP, atau kesalahan teknis di lapangan. Terlalu sederhana jika pemerintah hanya mengatakan, "SOP harus diperbaiki." Sebab pertanyaan sebenarnya adalah: Mengapa program yang menyangkut keselamatan ribuan anak justru bisa dijalankan dalam sistem yang membuka begitu banyak celah terhadap kelalaian, bisnis, kepentingan, dan permainan keuntungan? Keracunan massal bukan sekadar kesalahan dapur. Ini adalah alarm keras bahwa ada persoalan sistemik dalam cara negara mengurus rakyatnya. Rakyat Butuh Gizi, Bukan Proyek Bisnis. Makan bergizi adalah kebutuhan dasar rakyat, terutama anak-anak yang sedang tumbuh. Seharusnya negara memastikan setiap anak mendapatkan makanan yang aman, sehat, halal, bergizi dan layak dikonsumsi. Bukan menjadikan pemenuhan kebutuhan rakyat sebagai proyek besar yang melibatk...

Karhutla Berulang, Perempuan dan Generasi Menanggung Beban Berlapis

Gambar
  Sumber : news.okezone.com Oleh : Asriani Ummu Rayyan Karhutla Berulang, Perempuan dan Generasi Menanggung Beban Berlapis Setiap musim kemarau tiba, kekhawatiran yang sama kembali menghampiri Kebakaran Hutan dan Lahan (KARHUTLA). Asap  menyelimuti berbagai wilayah di Indonesia, kualitas udara menurun, aktivitas masyarakat terganggu, dan pemerintah harus mengerahkan sumber daya dalam jumlah besar untuk memadamkan api. Padahal, fenomena ini bukanlah peristiwa baru. KARHUTLA hampir selalu  berulang setiap tahun.  Pertanyaannya mengapa KARHUTLA selalu berulang? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar Kebakaran Hutan dan Lahan bukan merupakan bencana alam murni seperti adanya musim kemarau dan atau adanya fenomena El-Nino. Tapi  KARHUTLA terus berulang akibat pembukaan lahan masif, sementara respon pemerintah sebatas pemadaman di hilir tanpa menyetop pemicu utama di hulu.  Penyebab utamanya berkaitan dengan aktivitas manusia dengan cara membakar la...

Maulid : Momentum Meneladani Metode Perjuangan Nabi SAW

Oleh : Ummu Mumtazah (Pegiat Literasi) Setiap tahun di bulan Rabiul Awal seluruh umat Islam merayakan Maulid dengan berbagai aktivitas keagamaan sebagai bukti kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Momen tersebut dilakukan  dengan penuh suka cita dan khidmat. Namun,  di balik perayaan tersebut, mereka hanya memaknai sebagai peringatan saja. Misalnya, dengan pembacaan sholawat, tabligh akbar, bahkan pawai. Namun substansinya kerap berhenti sampai pada aspek ritual dan emosional saja.  Dikutip dari nasional.sindonews.com. Jakarta, sambut Rabiul awal 1448 Hijriyah, Kementrian Agama  (Kemenag) mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk bersolawat. Peringatan Maulid Nabi ini digelar melalui kegiatan Bissful Maulid 1448. Dalam perayaan Maulid tersebut, satu agenda utamanya adalah Gema Sholawat Kebangsaan, gerakan nasional yang mengajak masyarakat memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. Direktur Penerangan Agama Islam Kementrian Agamaj Muchlis M....

Karhutla Berulang, Kapitalisme Biangnya

Oleh : Ummu Hayyan (Pegiat Literasi) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meluas di Indonesia. Titik api tidak hanya muncul di Kalimantan, tetapi juga Sumatera dan Jawa. Sepanjang Januari hingga Juni 2026 luas lahan terbakar di 5 provinsi di Kalimantan mencapai 57 ribuan hektar. Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup menyebut sekitar 85.000 hektar kawasan konsesi perusahaan di Indonesia turut terbakar akibat karhutla. Dampaknya yang serius kabut asap bahkan melintasi perbatasan Malaysia dan mengganggu aktivitas serta kesehatan masyarakat. Kementrian Kesehatan mencatat lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten kota terpapar asap sementara kasus ISPA meningkat 78% seiring meluasnya karhutla.  Polri telah menetapkan 72 tersangka di Kalimantan dan Sumatera yang diduga sengaja membakar hutan untuk membuka lahan perkebunan sawit. Pemerintah mengandalkan operasi satgas darat dan water bombing untuk memadamkan api. Namun Ironi, kebakaran terus berulang. Saat api meluas, masyarakat k...

Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup

Gambar
Oleh : Reskidayanti Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup Gen Z saat ini adalah generasi dominan. Besar kecilnya peradaban ke depan sangat bergantung pada kualitas mereka. Namun faktanya, jumlah Gen Z yang besar tidak sebanding dengan kualitas hidup yang mereka jalani. Salah satunya dari segi finansial. Lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat. Hal ini dianggap sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan. Di sisi lain, biaya hidup semakin hari semakin mahal dan sulit terjangkau. Jakarta menempati posisi teratas sebagai kota dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia. Rata-rata biaya hidup di Jakarta mencapai Rp14,88 juta per bulan, berdasarkan data BPS. Sementara itu, UMR Jakarta tahun 2026 hanya berada di angka Rp5.726.876. Makassar juga mencatat biaya hidup sekitar Rp11,5 juta per bulan, salah ...