Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup




Oleh : Reskidayanti

Gen Z Terhimpit: Antara Tekanan Ekonomi, Budaya Hedonis, dan Krisis Tujuan Hidup


Gen Z saat ini adalah generasi dominan. Besar kecilnya peradaban ke depan sangat bergantung pada kualitas mereka. Namun faktanya, jumlah Gen Z yang besar tidak sebanding dengan kualitas hidup yang mereka jalani.


Salah satunya dari segi finansial. Lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial.


Di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat. Hal ini dianggap sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan.


Di sisi lain, biaya hidup semakin hari semakin mahal dan sulit terjangkau. Jakarta menempati posisi teratas sebagai kota dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia.


Rata-rata biaya hidup di Jakarta mencapai Rp14,88 juta per bulan, berdasarkan data BPS. Sementara itu, UMR Jakarta tahun 2026 hanya berada di angka Rp5.726.876.


Makassar juga mencatat biaya hidup sekitar Rp11,5 juta per bulan, salah satu yang tertinggi di Indonesia Timur. Padahal, rata-rata UMR Makassar tahun 2026 masih di angka Rp4.148.179.


Kondisi ini sangat memprihatinkan, terutama bagi Gen Z yang baru memasuki dunia kerja. Sistem saat ini sangat menghimpit: tekanan ekonomi terus meningkat seiring biaya hidup, sementara gaji stagnan dan tidak cukup untuk menutup kebutuhan.


Inilah realitas sistem kapitalisme yang berorientasi pada materi semata. Harga-harga melambung untuk menjaga stabilitas pasar, sementara rakyat harus banting tulang mengejar harga dengan gaji yang tidak seberapa.


Akibatnya, kebutuhan dasar yang seharusnya menjadi kewajiban negara dalam menjamin kesejahteraan rakyat justru terabaikan. Negara seolah lepas tangan dan membiarkan generasi muda berjuang sendirian.


Tak hanya itu, tekanan ekonomi yang dirasakan Gen Z hari ini diperparah oleh budaya hidup sekuler-liberal. Tidak heran jika banyak pemuda menjadikan _self-reward_, _healing_, dan konsumsi hedonis sebagai jalan pintas untuk meredam tekanan. Dengan kata lain, ini menjadi bentuk pelarian.


Budaya ini masif disebarkan lewat media sosial, sehingga memunculkan tren-tren populer yang terus-menerus mencekoki para pemuda. Hingga lahirlah FOMO dan budaya belanja berlebihan.


Di balik semua itu, ada krisis yang lebih dalam: Gen Z tidak memahami tujuan hidupnya. Akibatnya, kebahagiaan diukur dari kenikmatan materi sesaat, bukan dari ridha Allah dan kemuliaan Islam.

Alhasil mereka akan terus mencari materi hingga tak ada waktu untuk berpikir dengan jernih. Kesibukan telah melalaikan mereka dari makna hidup, sehingga sangat rentan tergerus dengan opini yang berselancar di media sosial. 


Solusi Islam terhadap Problem Gen Z


Perpaduan faktor-faktor di atas membuat Gen Z tertekan. Ketidakpastian seperti ini harus segera dicarikan solusi tuntas.


Islam menawarkan solusi berdasarkan perspektif akidah Islam.


Pertama,  negara berbasis akidah Islam memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan pokok rakyat. Negara akan menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan SDA yang benar. Islam mempunyai konsep kepemilikan berbasis syariat. Diantaranya kepemilikan umum seperti SDA yang tidak bisa diprivatisasi oleh individu atau kelompok elit tertentu. Makanya SDA harus dikelola oleh negara kemudian diperuntukkan untuk rakyat. 


Tak hanya itu negara juga memastikan tersedianya lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki sebagai kepala keluarga. Dengan begitu, rakyat termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendirian.


Kedua, Islam menutup pintu gaya hidup hedonis dan melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme-kapitalisme dan turunannya. Media dalam sistem Islam akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat, bukan menebar konsumtivisme.


Ketiga, Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT.

 

"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (QS. Adz-Dzariyat: 56)


Dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi yang jelas sebagai pembangun peradaban, bukan sekadar pengejar materi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gencatan Senjata Palsu: Ketika Perdamaian Dijadikan Alat Penjajahan

Mudik Tahunan : Macet Parah dan Kecelakaan terus Terulang

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan