Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Fenomena Bunuh Diri : Bukti Sekularisme Menggerogoti Mental Generasi

Gambar
  Fenomena Bunuh Diri : Bukti Sekularisme Menggerogoti Mental Generasi Oleh : Sitti Kamariah (Aktivis Muslimah)  Psikiater Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda, Kalimantan Timur, dokter Sri Purwatiningsih membagikan cara mengatasi ide bunuh diri yang kerap muncul pada kalangan remaja sebagai dampak dari berbagai tekanan mental yang dialami. Ia pun mendorong para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak yang menjadi gejala depresi, seperti wajah yang selalu tampak sedih, kehilangan minat pada hobi, serta mudah lelah.  Menurut Sri, penanganan sejak dini dengan berkonsultasi kepada ahli dapat mencegah kondisi mental remaja memburuk hingga ke tahap yang mengancam nyawa. Penyebabnya pun beragam, mulai dari gangguan jiwa seperti depresi dan cemas, faktor lingkungan seperti perundungan di sekolah, hingga riwayat genetik dalam keluarga. "Kurangnya validasi emosi saat kecil membuat anak tidak bisa mengungkapkan perasaannya, sehingga mekan...

Ilusi Keadilan dalam Sistem Hukum Sekuler, Islam Menjamin Keadilan

Gambar
Oleh : Endah Fitri Lestari, S. Pd.  Penemuan mayat perempuan yang sudah membusuk dan terlilit lakban di sebuah indekos membuat geger warga Pabuaran, Kelurahan Ciamis, Kabupaten Ciamis pada Kamis (17/4/2025) lalu. Mayat tersebut kemudian diidentifikasi sebagai WML (23) yang merupakan warga Cisadap, Ciamis. Tak butuh waktu lama, Sat Reskrim Polres Ciamis berhasil meringkus pelaku pembunuhan keji tersebut. Ia adalah seorang pria bernama Eli Kasim Zakaria Amrullah alias Ezot (30). Diketahui pelaku dan korban merupakan sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan asmara sejak Oktober 2024. Kapolres menyatakan bahwa kasus pembunuhan ini dilatarbelakangi oleh pelaku yang sakit hati karena korban menagih utang Rp 1,5 juta dan juga rasa cemburu akibat melihat komunikasi korban dengan laki-laki lain di ponselnya. Pelaku kemudian dijatuhi vonis penjara seumur hidup oleh Pengadilan Negeri Ciamis pada Selasa (21/10/2025). Majelis hakim menyatakan bahwa ia terbukti secara sah dan meyakinkan ber...

Darurat KDRT dan Kekerasan Remaja

Gambar
Oleh : nurqamsyiah Kekerasan, akhir akhir ini sering menghiasai beranda kita atau dilaman laman berita, menandakan kasus kekerasan entah itu KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), kekerasan oleh remaja, bullying sedang marak. Dalam pekan ini misalnya sudah ada kasus pembunuhan yang tergolong sadis, seorang suami berusia 54 tahun membunuh istrinya yang berusia 42 tahun dengan cara dibakar kemudian jasadnya dikubur dikebun tebu.Peristiwa ini terjadi di Sumbermanjing wetan (sumawe), kabupaten malang. 16/10/2025. Beritasatu.com. Adapula seorang remaja 16 tahun di Pacitan, Jawa Timur yang tega membunuh sang nenek karna sakit hati karna sang nenek sering mengatakan bahwa cucunya cucu pungut. Meski tidak meninggal tapi sang nenek mengalami luka serius dan harus dilarikan ke RS dr. Darsono Pacitan. 16/10/2025. Beritasatu.com Begitu juga yang terjadi dijakarta, kelurahan Rorotan,  Cilincing Jakarta Utara, seorang remaja (16) membunuh seorang anak perempuan (11) hanya karna ibunya ...

Tata kelola Tambang Sesuai Syariat Islam

Gambar
    Oleh: Tri Siswoyo (Aktivis Dakwah) Aktivitas tambang batubara di Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menjadi sorotan publik. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah titik di wilayah Ibu Kota Negara (IKN) hingga Samarinda diduga menjadi lokasi penambangan liar.  Aksi 'main serobot' para oknum penambang liar ini bukan hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi merugikan keuangan daerah karena menurunkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Kaltim. Sekretaris Komisi I DPRD Kaltim, terang-terangan mengungkap kekhawatiran. Menurutnya, potensi kerugian negara akibat tambang ilegal sangat fantastis karena uangnya tidak kembali ke daerah. Banyak pendapatan yang seharusnya secara legal itu dikembalikan lagi ke Kaltimh ewat DBH (Dana Bagi Hasil), tapi itu hilang akibat tambang ilegal. (Tribunkaltim.co, 13/10/2025 Terkait masalah tambang, baik legal maupun ilegal sejatinya tidak bisa terlepas dari sistem yang mengatur kepemilikan umum ini. Dalam sistem ekonomi...

Menakar Urgensi Pesantren Sebagai Pelopor kebangkitan Islam

Gambar
  Oleh Haura (Pegiat Literasi)  Pesantren, Motor Penggerak Kebangkitan Islam Dalam pembukaan Musabaqah Qira'atil Kutub (MQK) di Wajo, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak seluruh komponen pondok pesantren di Indonesia menjadikan MQK Nasional dan Internasional sebagai “anak tangga pertama” menuju kembali “The Golden Age of Islamic Civilization" (Zaman Keemasan Peradaban Islam). Menag menegaskan bahwa kebangkitan kembali peradaban emas ini harus dimulai dari lingkungan pesantren. Menag juga menegaskan perlunya integrasi dan perkawinan Kitab Kuning (Kitab Turats) dan Kitab Putih, yang harus dikuasai pondok pesantren seperti menyangkut masalah sosiologi, kitab-kitab politik, dan kitab-kita  sains. Sebab runtuhnya peradaban Islam pada masa lalu dikarenakan adanya dualisme Ilmu, pemisahan antara Ilmu Agama dengan Ilmu Umum.  Untuk menuju The Golden Age of Islamic Civilization dapat dimulai dari Indonesia selama pesantren mempertahankan lima unsur sejatinya masjid...

Fatherless Kian Populer, Buah Kehidupan Kapitlistik-Sekuler

Gambar
Oleh : Nurqamsyiah  Fatherless adalah kondisi dimana peran ayah tidak berfungsi dalam kehidupan anak baik secara fisik maupun nonfisik atau secara emosional. Kondisi ini sedang populer di Indonesia ditandai dengan banyaknya komentar yang membanjiri salindia diakun Instagram @ruthelga. Akun ini sering membagikan kebersamaan dengan ayahnya serta kedekatannya yang banyak membuat netizen cemburu. bahkan beberapa netizen bercerita tentang kehidupannya yang jauh dari ayah meski satu atap. Seperti dikutip dilaman kompas.com. Rudarto (68), papa Rut, kaget mengetahui anak-anak muda sekarang mengalami fatherless. Menurut dia, fenomena itu hal yang gila dan menyengsarakan. Baginya, perhatian dan komunikasi terhadap putrinya merupakan hal yang lumrah dilakukan sebagai ayah. Olahan data tim Jurnalisme Data dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024, ada 15,9 juta anak atau setara dengan 20,1 persen dari total 79,4 juta anak yang berusia kurang dari 18 tahun yang b...

Kriminalisasi terhadap Kesadaran Politik Generasi Z

Gambar
  Oleh : Roffi'ah Mardyyah Aulia Lubis  (Aktivis dakwah) JAKARTA, - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengingatkan kepolisian akan potensi pelanggaran hak asasi manusia dalam penetapan 295 tersangka berusia anak dalam kerusuhan pada akhir Agustus 2025. Ketua Komnas HAM Anis Hidayah mengatakan, polisi harus mengkaji kembali apakah penetapan tersangka ini sudah sesuai dengan hukum acara pidana dalam sistem peradilan pidana anak (SPPA). Komnas HAM juga mendorong agar kepolisian transparan dalam mengusut tindak kerusuhan tersebut. "Jadi, jika diindikasikan ada pihak-pihak yang terlibat, ya harus disampaikan, tidak hanya para orang yang diorganisir saja untuk melakukan kerusuhan, pembakaran, dan lain-lain," ucap dia. Penetapan tersangka ini dilakukan atas dasar 246 laporan polisi yang tersebar di 15 Polda. Dari total tersangka tersebut, ada 295 anak yang ditetapkan sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang SPPA. Ada 68 anak yang diproses melalui mekanisme dive...

Ketidakadilan Gaji Guru dalam Kapitalisme

Gambar
  Oleh: Sri Idayani Aktivis Dakwah Jakarta, Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, meminta pemerintah agar tidak hanya menaikkan gaji guru dan dosen berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), tetapi juga memperhatikan nasib guru honorer. Menurutnya, peran guru honorer sangat vital dalam memajukan pendidikan nasional, tetapi kesejahteraan mereka masih jauh dari layak. Ia berharap mulai tahun 2026 mendatang tidak ada lagi guru honorer yang menerima gaji hanya Rp300.000 per bulan. Pernyataan Lalu disampaikan sebagai respons atas rencana Presiden Prabowo Subianto yang menaikkan gaji ASN, TNI/Polri, hingga pejabat negara melalui Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2025 tentang Pemutakhiran Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2025. Dalam aturan yang diteken pada 30 Juni 2025 itu, fokus kenaikan gaji diarahkan untuk guru, dosen, tenaga kesehatan, dan penyuluh (Senin, 22 September 2025). Kesenjangan yang terjadi antara ASN dan honorer memang tampak sangat jelas. Dengan kinerja dan tanggung ja...

Pembungkaman Terhadap Gen Z Agar Tidak Kritis Kepada Penguasa

Gambar
  Oleh : Pena Senja (Aktivis Pemerhati Umat)    KEPALA Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Syahardiantono mengumumkan hasil penindakan hukum terhadap kerusuhan saat demonstrasi 25 Agustus - 31 Agustus 2025 di berbagai daerah di Indonesia. "Total ada 959 tersangka, dengan rincian 664 dewasa dan 295 anak," ujar Syahardiantono dalam konferensi persnya di gedung Bareskrim Polri, Rabu, 24 September 2025. Demonstrasi terjadi di sejumlah daerah mulai Kamis, 28 Agustus 2025. Bermula dari demonstrasi buruh dan mahasiswa di depan Gedung MPR/DPR RI, Senayan, yang mengkritik tunjangan fantastis bagi anggota parlemen. Ketua Komnas HAM Anis Hidayah mengatakan, polisi harus mengkaji ulang apakah penetapan tersangka ini sudah sesuai dengan hukum acara pidana dalam system peradilan pidana anak (SPPA). Komisioner KPAI Aris Adi Leksono menyebut bahwa penetapan 295 tersangka anak pada kerusuhan akhir Agustus lalu tidak memenuhi standar perlakuan terhadap anak sesuai UU peradilan Anak. Ia men...

Job Hugging Melanda Kaum Muda, Dampak Kapitalisme Global

Gambar
  Oleh : Pena Senja (Aktivis Dakwah) Jakarta - Fenomena baru muncul di dunia kerja, disebutdengan istilah 'job hugging'. Kalau dulu banyak orang seringpindah-pindah kerja atau job hopping, kini justru banyakpekerja memilih 'memeluk' pekerjaannya yang ada saat ini.
Fenomena ini makin marak di tengah situasi pasar kerja yang penuh ketidakpastian. Para pekerja merasa lebih amanbertahan di tempat lama daripada harus ambil risiko pindahkerja.

"Saya rasa banyak pekerja menyadari ketidakpastian di pasar saat ini," kata Nicole Bachaud, ekonom tenaga kerja di ZipRecruiter, dikutip CNBC Internasional, Sabtu (20/9/2025).

Tak hanya dari sisi pekerja, perusahaan pun ikut 'memeluk' karyawannya. Setelah periode great resignation pada 2021-2022 yang membuat banyak perusahaan kekurangan tenagakerja, kini banyak pengusaha lebih memilih mempertahankanstaf ketimbang merekrut baru.

"Akibatnya, banyak perusahaan tidak ingin kekuranganpekerja dan mempertahankan staf....

Renovasi Rumah Pejabat Di Tengah Ekonomi Rakyat yang Kian Berat

Gambar
Oleh: Devi Ramaddani  (Aktivis Muslimah) Pemerintah kembali menuai sorotan setelah muncul kabar renovasi rumah jabatan dengan anggaran mencapai Rp1,4 miliar. Ironisnya, proyek ini diklaim sebagai bagian dari efisiensi anggaran untuk meningkatkan kenyamanan para wakil rakyat.  Sebagian warga menilai bahwa fasilitas rumah jabatan memang penting, namun diharapkan sebanding dengan kinerja dan pelayanan anggota dewan terhadap rakyat. (jejakkasus45.com, 30-09-2025) Di tengah kondisi ekonomi rakyat yang semakin berat, langkah ini memunculkan pertanyaan besar di masyarakat, bagaimana bisa efisiensi diwujudkan lewat pemborosan fasilitas pejabat? Banyak yang menilai, seharusnya efisiensi dimulai dari menekan pengeluaran untuk kepentingan pribadi pejabat, bukan malah menambah kenyamanan mereka. Wajar jika masyarakat merasa kecewa dan sanksi terhadap klaim “efisiensi anggaran” ini. Di saat harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja sulit, dan rakyat menjerit karena beban hidup, pemerintah...

"MBG: Program Maut di Bawah Naungan Kapitalisme, Bukan untuk Rakyat Tapi untuk Korporasi!"

Gambar
  Oleh : Yuli Atmonegoro, Aktivis Dakwah Serdang Bedagai  Ribuan anak-anak menjadi korban, puluhan nyawa melayang sia-sia, dan ribuan keluarga tenggelam dalam duka. Ini bukan bencana alam, melainkan akibat dari sebuah program bernama MBG—yang diduga menjadi penyebab utama keracunan massal di berbagai wilayah. Alih-alih dihentikan, program ini justru terus dijalankan dengan dalih “demi masa depan bangsa.” Pertanyaannya: masa depan siapa? Bangsa atau para pemilik modal? Mengutip dari BBC News Indonesia yang tayang pada 25/09/25, ditulis bahwa lebih dari 1.000 siswa di Bandung Barat diduga keracunan MBG. Sejumlah korban keracunan usai mengonsumsi MBG masih berdatangan ke Posko KLB Keracunan MBG, Kecamatan Cipongkor, Kamis siang (25/09). Otoritas kesehatan setempat melaporkan jumlah korban keracunan terbaru, lebih dari 1.000 orang. Setidaknya lima siswa dari sekolah yang berbeda datang dengan keluhan sesak nafas, sakit perut, pusing, dan mual.Mereka adalah siswa yang sempat menja...

Kohabitasi Berujung Mutilasi: Buah Pahit Liberalisasi Pergaulan

Gambar
Kohabitasi Berujung Mutilasi: Buah Pahit Liberalisasi Pergaulan Oleh: Sarlin, Amd. Kep (pegiat literasi)  Kasus mutilasi yang dilakukan oleh Alvi Maulana (24) terhadap pacarnya, TAS (25), di Surabaya, Jawa Timur, kembali menguak sisi gelap pergaulan bebas. Pelaku tega menghabisi nyawa korban dan memutilasi tubuhnya hingga ratusan potong. Peristiwa tragis ini, menurut kepolisian, berawal dari hubungan serumah (kohabitasi) yang dijalani keduanya selama lima tahun, disertai tekanan ekonomi dan tuntutan gaya hidup. Tragedi ini bukan sekadar kasus kriminal biasa. Jauh di baliknya, kasus ini adalah cerminan kegagalan sistem sosial yang hari ini marak. Hubungan gelap yang disebut kohabitasi—tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan—telah menjadi faktor pendorong utama kekerasan ini. Selama bertahun-tahun, kohabitasi dianggap sebagai hal yang normal-normal saja oleh sebagian generasi muda. Mereka tidak lagi peduli pada norma agama, haram-halal, yang penting kesenangan dan kebutuhan biologis ...

Gaza Terus Menderita, Penyadaran Umat Tidak Bisa Ditunda

Gambar
Gaza Terus Menderita, Penyadaran Umat Tak Boleh Ditunda Oleh: Sarlin, Amd. Kep (pegiat literasi)  Pada Sabtu, 6 September 2025, militer Israel meminta warga di Kota Gaza untuk mengungsi ke selatan seiring operasi yang berlangsung di berbagai bagian kota. Serangan berkepanjangan pada pinggiran utara kota itu, yang diperintahkan untuk merebut Kota Gaza, mengancam menggusur ratusan ribu penduduk yang selama hampir dua tahun berlindung di sana. Sebelum konflik, hampir setengah populasi Gaza — sekitar satu juta orang — tinggal di kota itu. Keadaan ini menimbulkan derita kemanusiaan yang tak terperi. Kebiadaban yang memperlihatkan ketidakpedulian terhadap nyawa warga sipil telah menjadi luka yang sukar disembuhkan. Gambar-gambar keluarga yang kelaparan, rumah-rumah yang hancur, dan anak-anak yang kehilangan masa depan menampar nurani setiap insan beriman. Jika umat Islam tidak segera mencermati dan merespons penderitaan tersebut dengan langkah nyata, maka luka itu akan berkepanjangan dan...